Jumat, 24 Agustus 2012

Mubazir / Ekonomi / Hemat dalam Bahasa Jurnalistik II

Penanggalan Kata Mubazir
Menurut B.H. Haed (1977) kata-kata mubazir adalah kata-kata yang apabila tidak dipakai tidak akan mengganggu kelancaran komunikasi. Dalam bahasa Indonesia ada sejumlah kata mubazir, antara lain seperti yang dibicarakan ini.
Hari, Tanggal, Bulan, dan Tahun
Kata-kata hari, tanggal, bulan dan tahun adalah kata-kata yang menyatakan waktu. Untuk menerapkan prinsip hemat kata, kata-kata itu bisa ditanggalkan karena tidak akan mengganggu makna kalimat dan kelancaran komunikasi. Contoh :
·         Rapat akan diadakan pada hari Jumat tanggal 22 bulan januari tahun 2010
·         Jaksa penuntut umum membacakan tuntutan pada hari Senin tanggal 18 januari tahun 2010
Dengan menanggalkan kata-kata hari, tanggal, bulan, dan tahun menjadi :
·         Rapat akan diadakan Jumat, 22 januari 2010
·         Jaksa penuntut umum membacakan tuntutanya Senin, 18 Januari 2010
Konjungsi Bahwa
Kata bahwa adalah konjungsi yang bertugas menghubungkan klausa utama (individu kalimat) dengan klausa bawahan (anak kalimat) yang menyatakan kesamaan. Misalnya
·         Kami sudah tahu bahwa mereka akan menikah bulan depan
·         Kabar bahwa gaji pejabat tinggi akan naik tidaklah benar
Dalam bahasa baku konjungsi bahwa harus digunakan secara konsisten tetapi di dalam bahasa jurnalistik, demi hemat kata boleh saja ditanggalkan asal tidak mengganggu komunikasi dan merusak makna kalimat. Menjadi :
·         Kami sudah tahu, mereka akan menikah bulan depan
·         Kabar, gaji pejabat tinggi akan naik tidaklah benar
Konjungsi Adalah, Ialah, Yaitu, Yakni, dan Merupakan
Konjungsi adalah, ialah, yaitu, yakni, dan merupakan adalah konjungsi yang secara sematik menghubungkan menyamakan duabuah klausa.
·         Dia adalah seorang guru SD di Jakerta
·         Sukarno ialah presiden pertama Republik Indonesia dimakamkan di Blitar
Menjadi
·         Dia duru SD di Jakarta
·         Sukarno, presiden pertama Republik Indonesia, dimakamkan di Blitar
Kojungsi Untuk
Kata untuk adalah konjungsi untuk menghubungkan dua bagian kalimat atau klausa yang menyatakan tujuan atau peruntukan.
·         Ibu ke pasar untuk membeli beras
·         Sutiyoso mendeklarasikan diri untuk menjadi calon presiden 2009-2014
Ø  Ibu kepasar membeli beras
Ø  Sutiyoso mendeklarasikan diri menjadi calon presiden tahun 2009-2014
Kata telah, sedang dan akan
·         Kemarin presiden telah meresmikan usaha peternakan lebah itu di bogor
·         Dewasa ini KPK sedang sibuk memeriksa Anggoro Widjoyo
Ø  Kemarin presiden meresmikan usaha peternakan lebah di bogor
Ø  Dewasa ini KPK sibuk memeriksa Anggoro Widjoyo
Kata dari, dan Daripada
·         Pidato dari Presiden minggu lalu tidak menyebut-nyebut masalah perubahan kabinet
·         Pertemuan daripada para gubernur berlangsung di istana Bogor
Ø  Pidato Presiden minggu lalu tidak menyebut-nyebut masalah perubahan kabinet
Ø  Pertemuan para gubernur berlangsung di istana Bogor
Kata Bantu Bilangan
·         Beliau orang kaya, mobilnya saja ada tiga buah
·         Setiap pagi beliau makan telur ayam tiga butir
Ø  Beliau kaya, mobilnya saja ada tiga
Ø  Setiap pagi beliau makan telur ayam tiga butir
Hemat Kata secara Gramatikal
Hemat kata secara gramatikal adalah upaya penghematan sarana morfologi dan sintaksis sepanjang yang diizinkan dalam tata bahasa Indonesia yang benar.
Hemat kata secara morfologi adalah dengan menggunakan afiks (imbuhan) secara konsekuan menurut kaidah gramatikal yang ada, meskipun dalam berbahasa sehari-hari tidak atau belum digunakan orang. Misalnya salah satu makna gramatikal prefiks (awalan) ber- adalah dalam arti ‘naik...’ kalau diimbuhkan pada bentuk dasar kata benda yang menyatakan ‘kendaraan’ jadi, berkuda berarti ‘naik kuda’ bersepeda berarti ‘ naik sepeda’ dan berbendi berarti ‘naik bendi’. Maka apa salahnya kalau frase naik bemo kita gunakan kata berbemo, naik ojek kita gunakan kata berojek. Begitu juga daripada kita mengatakan pakai jilbab lebih baik dan lebih singkat kita gunakan kata berjilbab.
Sekarang kita simak kalimat-kalimat berikut
1.      Larangan memakai jilbab meluas di Inggris dan Perancis
2.      Pansus angket Bank Century DPR akan membuat jadwal ulang pertemuan dengan beberapa pejabat Bank Indonesia
3.      Setiap pagi, sehabis shalat subuh, beliau melakukan olahraga sekitar setengah jam
4.      Beliau tidak memberikan izin kami untuk pulang segera
5.      Dalam seinar itu beliau cuma menjadi patung di kursi belakang
Frase memakai jilbab pada kalimat (1) tentu harus diubah menjadi berjilbab. Lalu frase membuat jadwal ulang pada kalimat (2) dapat diganti dengan kata menjadwal. Frase melakukan olahraga pada kalimat (3) dapat diubah dengan berolahraga. Sedangkan frase memberi izin pada kalimat (4) dapat diubah dengan mengizinkan. Terakhir frase menjadi patung pada kalimat (5) dapat diganti dengan kata mematung yang lebih singkat tetapi sama makna.
Hemat Kata secara Sintaksis
Secara sintaksis kita dapat melaksanakan prinsip hemat kata dengan cara melesapkan salah satu unsur kalimat atau lebih sehubungan dengan adanya kesamaan kalimat (klausa) itu dengan kalimat (klausa) lain. Umpamanya bagian yang bercetak miring yang merupakan unsur subjek dan predikat pada kalimat (a) dan (b) salah satunya bisa ditinggalkan atau dilepaskan.
a.       Minggu ini pansus angket Bank Century DPR memeriksa wapres Budiono
b.      Minggu depan pansus angket Bank Century DPR memeriksa Menkeu Sri Mulyani
Sehingga kalimat itu menjadi dalam bentuk sebuah kalimat, atau dalam bentuk dua kalimat.
a.1 Minggu ini pansus angket Bank Century DPR memriksa wapres Budiono, minggu depan Menkeu Sri Mulyani.
b.1 Minggu ini pansus angket Bank Century DPR memeriksa wapres Budiono. Minggu depan menkeu Sri Mulyani.

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul.Bahasa Jurnalsitik.Jakarta:Rineka Cipta.2010
 K, Septiawan Santana.Jurnalisme Kontemporer.Jakarta:Yayasan Obor Indonesia.2005
Dewabrata, A.M.Kalimat Jurnalistik, Panduan Mencermati Penulisan Berita.Jakarta:kompas.2004

EDITING DALAM BAHASA JURNALISTIK

Menulis adalah menyusun kata-kata, yang akan dibaca, dikutip dan diingat orang. Penulis dan copy editor bekerja samauntuk mewujudkan tulisan ini. Penyuntingan naskah (copyediting) berarti menata naskah agar tidak terjadi kesalahan, seperti mengubah huruf besar untuk nama negara “Indonesia” dan meletakan koma dalam urutan kalimat “singa, beruang, dan kerbau.”
Dewasa ini seorang penyunting naskah juga membahas tulisan bersama penulis dengan mengajukan pertanyaan dan mendiskusikan isu, struktur, dan aliran berita.
PROSES PEMERIKSAAN TULISAN
Salah satu kunci copyediting yang baik adalah tahu apa yang mesti ditanyakan kepada penulis naskah. Pertanyaan ini harus datang dari editor yang melihat berita dari perspektif pembaca. Proses pertanyaan ini akan membantu penulis mengembangkan pemahaman akan tujuan dan fokus berita.
Pertanyaan itu dapat diorganisir sedemikian rupa dalam tiga tahap dasar: tahap perencanaan, tahap pengumpulan dan tahap penulisan.
1.      TAHAP PERENCANAAN
Tujuan pertanyaan  tahap ini membantu penulis menyusun pertanyaan atau fokus sebelumwawancara.
2.      TAHAP PENGUMPULAN
Pertanyaan-pertanyaan dalam tahap pengumpulan harus membantu penulis untuk memilah-milih gambaran dalam dan informasi yang dikumpulkan dari wawancara dan observasi.
3.      TAHAPA PENULISAN
Pertanyaan dalam tahap penulisan dimaksudkan untuk membantu penulis memilah-milih informasi riset dan wawancara. Penulis harus menentukan kutipan mana yang akan dipakai, apakah dengan mengutip persis kata demi kata atau tidak.
Dalam setiap tahap, peran editor naskah adalah memberi bantuan kepada penulis dalam menyusun kata-kata atau kalimat berita.
SUMBER YANG DIPERLUKAN UNTUK MENYUNTING
Editor yang baik perlu punya akses cepat ke banyak sumber
·         Pedoamn penulisan jurnalistik, seperti dari Associated Press atau New York Times, atau pedoman penulisan jurnalisme sekolah.
·         Kamus dan thesaurus, termasuk yang sudah dalam bentuk program pengolahan kata.
·         Direktori sekolah atau kampus yang berisi daftar seluruh nama siswa/mahasiwa, staf fakultas, sehingga reporter dan editor dapat memverifikasi ejaan nama, gelar dan sebagainya.
·         Buku telepon umum dan bisnis untuk memverifikasi nama dan alamat.
·         Kamus almanak dan biografis, yang berguna untuk memverifikasi fakta dan nama prestasi dari tokoh yang mungkin dikutip dalam berita.
·         Buku pegangan bahasa (EYD, pedoman tata bahasa) yang berguna bagi editor dan reporter.
·         Koran, majalah, dan yearbook edisi lama untuk memverifikasi update berita dan liputan terkini.
Berbekal ini semua, editor bisa mulai melakukan penyuntingan akhir. Untuk mengevaluasi berita, editor perlu membaginya menjadi beberapa  bagian.
TERAS BERITA
·         Dalam teras berita langsung, apakah informasi yang terkini dan paling penting sudah ada?
·         Dapatkah teras berita itu diperpendek tetapi tetap jelas?
·         Dalam teras feature, apakah anekdot, gambar, atau pernyataan sudah sesuai dengan fokus berita?
·         Apakah semua faktanya sudah benar?
Teras berita ini memengaruhi dibaca atau tidaknya berita yang disajikan. Teras ini karenanya amat berharga dan penting bagi penulis berita.
ORGANISASI ISI BERITA DAN ALIRAN BERITA
Meski para penulis pemula sering ingin mendapatkan resep penulisan isi, namun sesungguhnya tidakpedoman atau resep yang berlaku.
Naun editor dapat memulai dengan pertanyaan seperti ini:
·         Apakah ada pertanyaan yang belum terjawab?
·         Apakah anda sudah menata berita sedemikian rupa sehingga dapat diapahami dengan jelas?
·         Apakah anda sudah membaca berita keras-keras untuk memastikan aliran beritanya sudah bagus?
Dalam buku Coaching Writers, Roy Peter Clark dan Don Fry menulis beberapa tipa yang bisa digunakan oleh edotor untuk memberi saran kepada penulis berita:
·         Tanyakan apa yang perlu diketahui oleh pembaca dan bagaimana urutannya?
·         Aturlah materi dalam bentuk narasi dengan awal, pertengahan dan akhir.
·         Tulis beberapa subjudul untuk suatu bagian dengan memvisualisasikan seperti apakah berita itu nantinya?
·         Tulis daftar pelaku dalam berita dan motifnya.
·         Tulis ringkasan berita dengan tepat tanpa pedulikan kalimatnya, kemudian cetaklah dan garis bawahi hal-hal yang penting dan susunlah dalam garis besar. Lalu buanglah ringkasan itu.
·         Susun materi menjadi scene. Bab atau keduanya.
PEMBERITAAN
PENGECEKKAN FAKTA
Editor harus memahamidetail dan jika perlu, memeriksa setiap fakta, setiap nama dan setiap kata.
·         Hilangkan fakta yang meragukan.
·         Cek semua fakta untuk memastikan konsistensi.
·         Konfirmasikan fakta dan lakukan verifikasi nama.
·         Cek angka, khususnya yang berkaitan dengan total.
·         Cermatlah dalam memeriksa tanggal dan waktu. Cek semua tanggal, bulan dan hari dengan merujuk pada kalender.
KEJELASAN DAN KERINGKASAN
Editor memastikan kejelasan dari setiap kalimat dan paragraf. Editor dapat menggunaan petunjuk dibawah ini.
·         Jika ada paragraf yang perlu ditata ulang, maka lakukannlah.
·         Jika isi paragrafnya berulang-ulang, maka kombinasikanlah atau hilangkan salah satu.
·         Jika paragraf terlalu panjang, maka pecahlah paragraf itu menjadi dua atau lebih paragraf.
·         Jika naskah memuat daftar nama yang panjang, letakkan daftar itu di bagian lain seperti di sidebar atau ringkaslah isinya.
·         Letakkan ide penting di awal kalimat.
·         Buanglah kata atau kalimat atau klausal yang boros, atau kombinasikanlah.
·         Sederhanaka kalimat yang rumit.
·         Perkuat nada kalimat denganmengubah bentuk pasif menjadi aktif (tentu saja kadang-kadang bentuk pasih juga perlu). Dalam kalimat berikut ini aktif lebih baik.
-          Wampus Cats bermain defensif kali ini. (Bukan: Permainan defensif dilakukan oleh Wampus Cats)
-          Ryan Coleman terpilih kembali menjadi ketua senat. (Bukan: Lembaga senat memilih kembali Ryan Coleman sebagai ketua senat yang baru).
·         Hilangkan ekspresi yang basi.
·         Usahakan kalimat menjadi variatif.
·         Tingkatkan diksinya dengan menggunakan kata spesifik dan tepat: berdebat berbeda dengan bantahan-bantahan; baik hati adalah umum, sedangkan dermawan, penyayang, adalah khusus; blak-blakan adalah sinonim untuk terus terang, terbuka, jujur, tetapi kata itu mengandung makna khusus; pohon adalah umum, sedangkan karet, jati, cemara adalah khusus.
·         Hilangkan komentar editorial kecuali bentuk berita memang mengizinkan untuk dikomentari, yakni kolom, editorial atau review (ulasan).
DETAIL
Saat editor mengkoreksi kesalahan ejaan, gaya dan tata bahasa, mungkin terjadi kesalahan lagi dalam proses koreksi ini. Diperlukan pembacaan finalo sekali lagi untuk memperbaikinya.
PROSES SELANJUTNYA
Tugas editor naskah belum selesai meski kesalahan telah diperbaiki dan berita dipublikasikan. Sisihkan sedikit wktu untuk mendiskusikan berita dengan penulis.
Diskusi pasca-publikasi dimaksudkan untuk mengevaluasi berita dan mengambil pelajaran. Editor dapat memberi saran soal teras berita, problem yang sering dihadapi, atau memberi saran perbaikan mutu berita.
KESALAHAN UMUM DALAM EDITING
·         Menggunakan sinonim untuk kata.
·         Menggunakan inisial sekolah.
·         Penggunaan kata atau gaya penulisan secara tak konsisten.
·         Penggunaan kata ganti yang tidak tepat.
·         Menyisipkan kata “ketika ditanya” untuk menjelaskan kutipan.
·         Mengkombinasikan beberapa kutipan diparagraf yang sama. Ketika pembicara mengubah topik, direkomendasikan menggunakan paragraf baru.
·         Penyalahgunaan frase dinyatakan. Kata ini sebaiknya dipakai untuk kutipan dari teks tertulis. Jangan dipakai untuk kutipan dari wawancara langsung.
·         Kesalahan penulisan nama. Reporter harus bertanya langsung ke yang punya nama.
DAFTAR PUSTAKA
  • Asy’ari Oramahi, Hasan. 2003,  Menulis untuk telinga sebuah manual penulisan berita radio. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  • Eneste, Pamusuk. 2009, Buku Pintar Penyunting Naskah. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
  • Tom E. Rolnicki. 2008, Pengantar Dasar Jurnalisme. Kencana, Jakarta.
  • Yunus, Syarifudin. 2010, Jurnalistik Terapan. Ghalia Indonesia, Jakarta.

BAHASA JURNALISTIK TUTUR RADIO DAN TELEVISI

Siaran berita dalam radio disampaikan secara lisan. Jadi, untuk bisa memahami siaran berita media radio seseorang haruslah mendengarkan dengan menggunakan indra pendengar sebaik-baiknya. Bila ada bagian berita yang tidak dipahami si pendengar siaran tidak mungkin minta siaran itu untuk diulangi. Beda dengan bahasa media cetak yang bisa diulangi beberapa kali saja menurut kemauan pembaca.berita dalam surat kabar yang harus dipahami secara visual (dilihat) berbeda dengan berita dalam media radio yang harus dipahami atau ditangkap secara audial (didengar). Perbedaan itu tentu akan menyebabkan adanya perbedaan dalam penyajian bahasa tulis untuk media cetak dan bahasa lisan untuk media radio.
Dalam bahasa berita untuk media radio bentuk piramida terbalik ini dihindarkan. Mengapa? karena kalau bahasa tulis dalam surat kabar bisa diulang-ulang membacanya, tetapi bahasa lisan dalam siaran radio tidak bisa diulang-ulang mendengarkannya. Hanya untungnya siaran berita radio itu selalu diulang setiap jam, begitu juga dengan siaran berita di televisi. Namun, pengulangan suatu berita pun ada batasnya. Berita yang sudah beberapa kali disiarkan tidak diulang lagi karena ada berita yang baru lagi.
Media televisi kita tangkap secara audiovisual. Artinya, kita dengar suaranya dan kita lihat gambarnya, baik gambar orang yang membacakan berita itu, maupun ilustrasi gambar yang menyertai berita tersebut. Jadi, ada informasi berita dari media televisi yang kita tangkap dengan mata secara visual. Hal ini tentu menyebabkan penyajian bahasa untuk siaran berita media televisi agak berbeda.
Bahasa berita televisi Suwardi Idris (1978) memberi pedoman, bahwa berita televisi hendaknya:
a.       Sederhana, tidak bercampur aduk dengan kata-kata asing atau kata-kata yang kurang dikenal oleh rata-rata penonton.
b.      Menggunakan kalimat-kalimat pendek langsung kepada sasaran, tidak berbelit-belit
c.       Menghindarkan pemakaian kalimat terbaik (inverted sentence)
d.      Mengusahakan sedapat mungkin agar subjek dan predikat berdekatan letaknya.
e.       Member penjelasan secukupnya tentang benda-benda atau kata-kata asing yang terpaksa digunakan dalam siaran berita televisi.
f.       Kalimat panjang yang mungkin dapat disajikan dalam media cetak sebaiknya dibagi-bagi menjadi beberapa kalimat yang pendek, dan kalau perlu susunannya diubah, sehingga subjek dan predikat jelas posisinya.
Pada umumnya didapatkan bahwa jurnalistik memiliki lima karakteristik, yakni :
1.      Publisitas
Publisitas maksudnya bahwa jurnalistik atau media massa itu ditujukan untuk konsumsi publik secara umum dan luas. Karya jurnalistik itu disampaikan secara umum kepada publik dengan menerabas segala sekat atau pembatas. Media radio dan televisi, dapat dinikmati oleh publik secara umum bebas, di mana pun dan kapan saja.
2.      Universalitas
Universalitas maksudnya bahwa pesan yang disampaikan dalam jurnalistik atau media massa bersifat universal/umum, karena bersangkutan dengan aneka aspek atau persoalan kehidupan yang muncul di atas bumi ini.
3.      Periodisitas
Periodisitas menunjuk pada keberkalaan dari sebuah media massa hadir di hadapan publiknya. Misalnya bagian atau kolom tertentu dari sebuah media massa, kolom-kolom tertentu di dalam surat kabar, juga hanya pada hari-hari yang sifatnya tertentu. Tentu saja, sesuatu yang harus hadir setiap hari tidak dapat dipaksakan untuk hadir secara periodik saja.
4.      Kontinuitas
Kontinuitas menunjuk pada kelangsungan sebuah media massa hadir di hadapan publiknya sebuah surat kabar harian, misalnya, hadir setiap hari kepada publiknya. Majalah mingguan, misalnya, juga harus hadir secara kontinyu pada setiap periode mingguan ke hadapan publiknya.
5.      Aktualitas
Media massa harus berciri aktual. Maksudnya, media massa itu selalu harus hadir dengan hal-hal yang baru sifatnya.

Lead dalam Bahasa Jurnalistik

Dalam jurnalistik Indonesia ada beberapa istilah untuk menyebut teras berita (Inggris Lead), yaitu pengantar berita, awal berita, dan intro.
Teras berita adalah bagian yang penting dari sebuah berita, yang ditempatkan pada paragraf pertama di bawah judul berita. Teras berita dapat berupa sebuah kalimat atau beberapa kalimat (dua atau tiga buah kalimat) yang terikat pada sebuah paragraf teras berita ini harus menarik dan ditulis dalam kalimat-kalimat pendek.
Teras berita menggambarkan isi berita pada tubuh berita (detail). Karena itu, sebuah teras berita meskipun ditulis dalam kalimat-kalimat singkat harus memuat unsur-unsur 5W dan 1H.
Ada kecenderungan untuk menonjolkan unsur who dalam teras berita. Lebih-lebih kalau who itu seorang tokoh masyarakat, nasional, internasional, atau juga seorang selebritis terkenal.  Kebanyakan jurnalis mengangap teras berita dengan menonjolkan unsur who pasti penting. Contoh:
Presiden SBY di istana negara kemarin menerima Tim Delapan yang melaporkan hasil akhir kerja mereka.
FUNGSI TERAS BERITA
1.      Atraktif
Artinya teras berita yang kita tulis harus mampu untuk membangkitkan perhatian dan minat khalayak pembaca terhadap topik persoalan atau topik persoalan atau pokok peristiwa yang dilaporkan.
2.      Introduktif
Teras berita yang kita tulis harus dapat mengantarkan pokok persoalan yang dikupas dengan tegas dan jelas sehingga pembaca dapat mengenali dan merumuskan dengan mudah.
3.      Korektif
Kalimat dan paragraf pertama yang kita tulis dalam teras berita, harus dapat membuka jalan bagi kemunculan kalimat dan paragraf kedua dan seterusnya.
4.      Kredibilitas
Kredibilitas maksudnya kredibilitas seorang jurnalis yakni reporter atau wartawan, akan tampak pada teras berita yang ditulisnya.
JENIS-JENIS TERAS BERITA
1.      Who lead (teras berita siapa)
Teras berita siapa dipilih dengan pertimbanganunsur siapa atau pelaku peristiwa memiliki nilai berita (news value) yang lebih besar, kuat, atau lebih tinggi dibandingkan dengan unsur yang lain.
2.      What lead (teras berita apa)
Teori jurnalistik mengingatkan, nilai berita tidak hanya menunjuk pada siapa yang menjadi pelaku peristiwa.
3.      When lead (teras berita kapan)
Cara mengenali when lead adalah dengan menemukan pernyataan tentang waktu pada awal kalimat teras berita seperti pukul (jam-menit-detik), nama hari, pekan, bulan, tahun, windu, dasawarsa, abad.
4.      Where lead (teras berita dimana)
Teori jurnalistik mengingatkan, faktor lokasi atau tempat, sering menjadi penyebab pemicu peristiwa yang sangat mengejutkan.
5.      Why lead (teras berita kenapa)
Teori jurnalistik dikenal salah satu kriteria nilai berita (news value) yang mampu melakukan eksplanasi sekaligus prediksi tentang penyebab sekaligus dampak dari suatu peristiwa yang terjadi di suatu tempat, kota, atau negara.
6.      How lead (teras berita bagaimana)
Teras berita bagaimana, umumnya lebih banyak terjadi pada peristiwa yang bersifat positif. Cara mengenali teras berita how lead dengan menemukan kata untuk atau kata guna pada kalimat pertama teras berita tersebut.
7.      Contrast lead (teras berita kontras)
Teras berita kontras banyak ditemukan pada berbagai peristiwa kriminal dan hukum. Cara untuk mengnalinya dengan memperhatikan isinya, apakah terdapat fakta atau perilaku yang berlawanan dengan seharusnya dilakukan oleh si pelaku peristiwa.
8.      Quotation lead (teras berita kutipan)
Teras berita kutipan harus memenuhi tiga syarat; 1. Perkataan langsung nara sumber yang dikutip dinilai sangat penting 2. Jelas, ringkas, dan tegas 3. Mencerminkan watak pribadi, kebiasaan, atau gaya kepemimpinan nara sumber tersebut.
9.      Question lead (teras berita pertanyaan)
Syarata question lead pertanyaan yang dilontarkan nara sumber dinilai menarik atau penting, ringkas, dan tegas, dan mencerminkan karakter pribadi.
10.  Descriptive lead (teras berita pemaparan)
Sesuai dengan teori jurnalistik, pelukisan suasana dalam suatu peristiwa tertentu secara deskriptif dinilai lebih efektif dibandingkan dengan cara lain.
11.  Narative lead (teras berita bercerita)
Ditulis dengan mengikuti kaidah gaya penulisan cerita pendek. Teras berita jenis ini digolongkan ke dalam jurnalistik sastra.
12.  Exlamation lead (teras berita menjerit)
Teras berita menjerit, umumnya lebih banyak ditemukan pada peristiwa kriminal dan peristiwa bencana seperti gempa bumi, tsunami, longsor, banjir, kecelakaan pesawat, kapal, feri, kereta api, bus.
disarikan dari buku:
Chaer, Abdul.Bahasa Jurnalsitik.Jakarta:Rineka Cipta.2010
 Sumadiria, Haris.Jurnalistik Indonesia,menulis berita dan feature.Bandung:Simbiosa Rekatama Media.2006