1.
Jabatan
tidak diikuti nama orang
Huruf kapital dipakai sebagai huruf
pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang
dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.
Misalnya, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, Gubernur Jawa Barat, Profesor
Jalaludin Rakhmat, Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan Nasional.
Ditegaskan
huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang
tidak diikuti nama orang, atau nama tempat. Salah satu ciri bahasa jurnalistik
adalah demokratis. Contoh :
·
Menurut
Bupati, anggaran untuk rehabilitasi gedung sekolah dasar .....
Seharusnya
:
·
Menurut
bupati, anggaran untuk rehabilitasi gedung sekolah dasar .....
2.
Huruf
pertama nama bangsa
ditegaskan
huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama bangsa, suku dan bahasa yang
dipakai bentuk dasar kata turun. Contoh:
·
50
persen dosen Unoversitas Masa depan (UMD) mengajar di depan kelas dengan dialek
ke-Sunda-Sundaan, 20 persen dosen mengajardengan dialek ke-Inggris-Inggrisan,
dan 10 persen menggunakan dialek ke-Batak-Batakan.
Seharusnya
·
50
persen dosen Unoversitas Masa depan (UMD) mengajar di depan kelas dengan dialek
kesunda-sundaan, 20 persen dosen mengajardengan dialek keinggris-inggrisan, dan
10 persen menggunakan dialek kebatak-batakan.
3.
Nama
geografi sebgai nama jenis
Dalam butir 9
ditegaskan, huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi
yang tidak menjadi unsur nama diri. Misalnya: berlayar ke teluk, mandi di kali,
menyebrangi selat, pergi ke arah tenggara. Contoh:
·
Para
wisatawan lokal lebih banyak membelanjakan uangnya yntuk membeli oleh-oleh khas
tiap daerah seperti kacang Bogor, salak Bali, pisang Ambon, pepaya
Bangkok, nanas Subang, tahu Sumedang,
peuyeum bandung, bandeng presto Semarang, dan telur Brebes.
Seharusnya:
·
Para
wisatawan lokal lebih banyak membelanjakan uangnya yntuk membeli oleh-oleh khas
tiap daerah seperti kacang bogor, salak bali, pisang ambon, pepaya
bangkok, nanas subang, tahu sumedang,
peuyeum bandung, bandeng presto semarang, dan telur brebes.
4.
Setiap
unsur bentuk ulang sempurna
Dalam butir 11
dinyatakan, huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk
ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan
ketatanegaraan, serta dokumen resmi. Contoh:
·
Perserikatan
Bangsa-bangsa, Yayasan Ilmu-ilmu Sosial dan Kepurbakalaan Sumedang larang,
Yayasan Ahli-ahli Bedah Plstik Jawa Barat, Undang-undang Dasar Republik
Indonesia, Garis-garis Besar Haluan Negara.
Seharusnya:
·
Perserikatan
Bangsa-Bangsa, Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial dan Kepurbakalaan Sumedang larang,
Yayasan Ahli-Ahli Bedah Plstik Jawa Barat, Undang-Undang Dasar Republik
Indonesia, Garis-Garis Besar Haluan Negara.
5.
Penulisan
kata depan dan kata sambung
Dalam butir dinyatakan
huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur
kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul
karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan utnuk yang tidak
terletak pada posisi awal. Contoh:
·
Diumumkan
tiga cerita pendek bertema pelestarian lingkungan yang paling digemari pembaca
yakni Harimau Tua Dan Ayam Centil, Hari-Hari Penentian Dalam Gua Neraka, dan
Kado Untuk Setan.
Seharusnya
·
Diumumkan
tiga cerita pendek bertema pelestarian lingkungan yang paling digemari pembaca
yakni Harimau Tua dan Ayam Centil, Hari-Hari Penentian dalam Gua Neraka, dan
Kado untuk Setan.
B.
Penulisan Huruf
Miring
1.
Penulisan
nama buku
Contohnya: Buku Jurnalistik Indonesia, Majalah Mingguan Berbahasa Sunda Mangle, Surat Kabar Bandung Pos, menurut Dewan Juri Anugerah Kebudayaan Jawa Barat
2006.
2.
Penulisan
penegasan kata
Contohnya: Harijanto sebenarnya
mencintai boat modeling sejak
1970-an.
3.
Penulisan
kata ilmiah
Contohnya: Beragam jenis batu menjadi
olahan Irwan, antara lain kucubung ungu (royal-purple
amethyst).
C.
Penulisan kata
Turunan
1.
Gabungan
kata dapat awalan akhiran
Contoh: Bertepuk
tangan, garis bawahi, dilipatgandakan, sebar luaskan.
2.
Gabungan
kata dalam kombinasi
Contoh: Antarkota,
antarsiswa, antiponografi, antikekerasan, anti-Amerika, antikarat, audiovisual,
demoralisasi, dwiwarna, dwibahasa.
D.
Penulisan
Gabungan Kata
1.
Penulisan
gabungan kata istilah khusus
Contoh: alat
pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung tangan,
ibu-bapak kami, kiri-kanan jalan, suka-duka.
2.
penulisan
gabungan kata serangkai
Contoh:
acapkali, adakalanya, akhirulkalam, daripada, darmawisata, belasungkawa,
dukacita, kacamata, kasatmata, manakala.
E.
Penulisan
Partikel
1.
Penulisan
partikel pun
Contoh partikel
pun yang harus ditulis terpisah : apa pun, kapan pun, di mana pun, rektor pun.
Sedangkan contoh partikel pun yang harus ditulis serangkai : adapun, andaipun,
ataupun, bagaimanapun, biarpun, meskipun, kalaupun, kendatipun.
2.
Penulisan
partikel per
Contoh: partikel
per yang harus ditulis terpisah: Para guru bantu di seluruh Indonesia akan
menerima gaji per 1 April 2007.
F.
Penulisan
Singkatan
1.
Penulisan
singkatan umum tiga huruf
Kaidah bahasa
jurnalistik dengan tegas melarang pemakaian singkatan umum.
2.
Penulisan
singkatan mata uang
Singkatan mata
uang, lambang kimia, singkatan satuan ukuran tidak diikuti tanda titik. Contoh:
kg, Rp.
G.
penulisan Akronim
1.
Akronim
nama diri
Contoh:
Universitas Islam Nusantara, ditulis menjadi UNINUS seharusnya Uninus.
2.
Akronim
bukan nama diri
Contoh: Pemilu
(pemilihan umum), seharusnilang.ya ditulis pemilu, Tilang (bukti pelanggaran)
seharusnya ditulis
H.
Penulisan Angka
Penulisan Rp
7.867.456.421.821 modal disetor 11.542.345.115. Dalam kaidah bahasa jurnalistik
angka itu harus disederhanakan menjadi Rp 7,86 triliun modal disetor 11,54
miliar.
I.
penulisan
Lambang Bilangan
1.
Penulisan
lambang bilangan satu-dua kata
Contoh: Dalam
tiga pekan terakhir, wali kota sudah tiga kali mengunjungi para korban. Contoh
lainnya: pemilihan umum berlangsung sampai 11 jam, atau molor tujuh jam dari
yang direncanakan.
2.
penulisan
lambang bilangan awal kalimat
Contoh: Sembilan
belas tewas dalam musibah kapal feri yang tenggelam di selat Bali, Senin petang
kemarin (3/4).
3.
Penulisan
lambang bilangan utuh
Contoh: Dari 210
juta penduduk Indonesia, 60 persen atau sekitar 126 juta bermukim di perdesaan.
4.
Penulisan
lambang bilangan angka-huruf
Peserta ujian
saringan masuk calon pegawai negeri sipil tahun anggaran 2006 di Kabupaten
Bandung, jawa Barat, tercatat 15 ribu orang. Namun jumlah itu, hanya 1.658 yang
dinyatakan lulus.
Dirangkum dari
buku Bahasa Jurnalistik, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalistik;
karya Drs. A.S. Haris Sumadiria, M.Si.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar