Menurut
Goenawan Mohammad, efisien di sini berarti lebih hemat dan lebih jelas.
Penghematan itu dilakukan di dua lapisan : (1) unsur kata, dan (2) unsur
kalimat.
Penghematan Unsur
Kata
Terdiri atas
beberapa kata berikut ini.
1.
Beberapa
kata Indonesia sebenarnya bisa dihemat tanpa menorbankan kata bahasa dan
jelasnya arti. Misalnya :
Agar supaya agar,
supaya
Akan tetapi tapi
Sehingga hingga
Meskipun meski
Walaupun walau
Tidak tak
2.
Kata
daripada atau dari pada juga sering bisa disingkat jadi dari.
3.
Ejaan
yang salah kaprah justru bisa diperbaiki dengan menghemat huruf.
Sjah sah
Khawatir kuatir
Akhli ahli
Effektif efektif
4.
Beberapa
kata mempunyai sinonim yang lebih pendek. Misalnya :
Kemudian lalu
Makin kian
Terkejut kaget
Sangat amat
Demikian begitu
Sekarang kini
Catatan : dua
kata yang bersamaan arti belum tentu bersamaan efek, sebab bahasa bukan hanya
soal perasaan. Dalam soal memilih sinonim yang telah pendek memang perlu ada
kelonggaran, dengan mempertimbangkan rasa bahasa.
Penghematan Unsur Kalimat
Pada penghematan
kalimat, Goenawan mengilustrasikan penghematan melalui struktur kalimat, yang
menghindari pemborosan kata. Di antaranya :
o
Pemakaian
kata yang sebenarnya tak perlu, di awal kalimat, seperti : adalah dan apa.
o
Pemakaian
kata apakah atau apa di dalam kalimat.
o
Pemakaian
dari sebagai terjemahan of (inggris), dalam hubungan milik,
juga daripada.
o
Pemakaian
untuk sebagai terjemahan to (inggris). Namun, dalam kalimat : “mereka setuju untuk tidak setuju”, kata untuk,
demi kejelasan, dipertahankan.
o
Pemakaian
adalah, sebagai terjemahan is atau are (Inggris) tak selamanya perlu.
o
Pembubuhan
akan, telah, sedang sebagai penunjuk
waktu sebenarnya bisa dihapuskan kalau ada keterangan waktu.
o
Pembubuhan
bahwa sering bisa ditiadakan.
Sebagai ganti bahwa ditaruhkan koma, atau pembuka (:) bilaperlu.
o
Yang sebagai
penghubung kata benda dengan sifat, kadang juga bisa ditiadakan dalam konteks
kalimat tertentu.
o
Pembentukan
kata benda (ke + .... + an atau pe + ..... + an) yang
berasal dari kata kerja atau kata sifat, meski tak selamanya, menambah beban
kalimat dengan kata yang sebenarnya tak perlu. Misalnya “Ia telah tiga kali melakukan penipuan terhadap saya” (bisa
disingkat : “Ia telah tiga kali menipu
saya”).
o
Penggunaan
dimana, kalau tak hati-hati, juga
bisa tak tepat dan boros. Contoh : “Pihak Kejaksaan ... kini menggarap 9 buah
perkara korupsi, dimana ke-9 perkara
tersebut. sebagian sudah dalam tahap penuntuta, sisanya masih dalam
pengusutan.” (“Pihak Kejaksaan Tinggi Sulut di Manado ini menggarap 9 perkara
tindak pidana korupsi. Ke-9 perkara tersebut sebagian sudah dalam tahap
penuntutan, sisanya masih dalam pengusutan”.
Dalam contoh itu
tampak : kata dimana tak menerangkan
tempat, melainkan hanya berfungsi sebagai penyambung satu kalimat dengan
kalimat lain. Ketika dijadikan dua kalimat, selain bisa menghilangkan dimana, juga menhasilkan
kalimat-kalimat pendek.
·
Pengunaan
kata Hal ini di awal kalimat, bisa
disingkat dengan kata ini di
awalnya. Contoh : “Keadaan ekonomi dan moneter kita saat ini masih belum
menentu, Hal ini (atau lebih singkat
: ini) secara tidaklangsung
disebabkan oleh ...”
·
Dalam
beberapa kasus kata yang berfungsi
menyambung satu kalimat dengan kalimat lain, sesudahnya, juga bisa
ditiadakan asal hubungan antara kedua kalimat itu secara implisit cukup jelas
(logis) kontinuitasnya. Misalnya : “bukan kebetulan jika gubernur menganggap
proyek itu bermanfaat bagi daerahnya. Sebab
5 tahun mendatang, proyek itu bisa menampung 2.500 tenaga kerja setengah
terdidik”.
Kausal
antara kedua kalimat secara implisit sudah jelas. Meski demikian, untuk kata
tapi, walau, atau meski yang menesankan adanya perlawanan tak bisa ditiadakan.
Kejelasan
Selain beberapa pedoman penghematan dalam menulis, beberapa
pedoman dasar kejelasan dalam
menulis perlu diperhatikan. Menulis secara jelas membutuhkan dua prasyarat:
o
Si
penulis harus memahami betul soal yang mau ditulisnya, bukan pura-pura paham
atau belum yakin benar akan pengetahuannya sendiri.
o
Si
penulis harus punya kesadaran tentang pembaca.
Memahami betul
soal-soal yang mau ditulisnya berarti menguasai sistematika bahan penulisan.
Ruang-waktu
deadline membuat kejelasan bahasa
jurnalistik meski memperhatikan:
·
Unsur
kata
·
Unsur
kalimat
Kejelasan unsur
kata dilakukan dengan cara:
·
Menerjemahkan
kata-kata asing.
·
Menghindari
sejauh mungkin akronim.
Akronim memang
mempunyai manfaat untuk: menyingkat ucapan dan penulisan dengan cara yang mudah
diingat. Akan tetapi, bila kita terlalu sering dan semena-mena membuat akronim
akan menyusahkan pembaca. Bahasa jurnalistik menghindari hal itu.
Kejelasan unsur kalimat
Tapi seperti
halnya dalam asas penghematan, asas
kejelasaan juga lebih efektif jika dilakukan dalam struktur kalimat.
Hindarkan
kalimat-kalimat majemuk yang paling panjang anak kalimatnya, terlebih-lebih
lagi, jika kalimat majemuk itu kemudian bercucu kalimat. Setiap kalimat yang
teramat panjang melebihi 15 sampai 20 kata, dapat membuat bias pokok-pokok
pengertian yang hendak disaampaikan. Apalagi disertakan pula data-data. Kalimat
panjang tersebut menjadi kering kerontang, tidak memberi ruang hidup yang
bernyawa, bagaikan mayat yang berisi organ-organ mati.
Kata “tidak”
berfungsi menegasikan (meng hambarkan, mematahkan) makna yang dikandung oleh
kata lain di belakangnya. “tidak bagus” artinya bagusnya entah di mana, mungkin
yang ada adalah jelej atau setengah jelek.
Kata “tidak”
bisa diganti dengan “bukan” yang fungsinya sama yakni menegasikan. “saya mau
naik bukan mobil sedan berwarna merah” (mungkin mau naik sepeda motor atau
dokar warna merah”.
Contoh tadi
memberi gambaran menggeser-geser kata yang dinegasikan sehingga ketahuanlah
pergeseran pesan yang terkandung di dalam kalimmat itu. Jika menulis berita,
seorang wartawan perlu juga memikirkan “pergeseran” negasi macam itu, supaya
bisa memastikan bahwa pesan yang hendak disampaikan tidak menimbulkan banyak
tafsir. Pastikan kata mana yang harus dinegasikan.
Referensi
·
K, Septiawan Santana.Jurnalisme Kontemporer.Jakarta:Yayasan
Obor Indonesia.2005
·
Dewabrata,
A.M.Kalimat Jurnalistik, Panduan Mencermati Penulisan
Berita.Jakarta:kompas.2004
Tidak ada komentar:
Posting Komentar