Jumat, 24 Agustus 2012

Mubazir / Ekonomi / Hemat dalam Bahasa Jurnalistik I

Menurut Goenawan Mohammad, efisien di sini berarti lebih hemat dan lebih jelas. Penghematan itu dilakukan di dua lapisan : (1) unsur kata, dan (2) unsur kalimat.
Penghematan Unsur  Kata
Terdiri atas beberapa kata berikut ini.
1.      Beberapa kata Indonesia sebenarnya bisa dihemat tanpa menorbankan kata bahasa dan jelasnya arti. Misalnya :
Agar supaya              agar, supaya
Akan tetapi                tapi
Sehingga                     hingga
Meskipun                   meski
Walaupun                  walau
Tidak                          tak
2.      Kata daripada atau dari pada juga sering bisa disingkat jadi dari.
3.      Ejaan yang salah kaprah justru bisa diperbaiki dengan menghemat huruf.
Sjah                sah
Khawatir        kuatir
Akhli               ahli
Effektif           efektif
4.      Beberapa kata mempunyai sinonim yang lebih pendek. Misalnya :
Kemudian      lalu
Makin             kian
Terkejut         kaget
Sangat            amat
Demikian        begitu
Sekarang        kini
Catatan : dua kata yang bersamaan arti belum tentu bersamaan efek, sebab bahasa bukan hanya soal perasaan. Dalam soal memilih sinonim yang telah pendek memang perlu ada kelonggaran, dengan mempertimbangkan rasa bahasa.
Penghematan Unsur Kalimat
Pada penghematan kalimat, Goenawan mengilustrasikan penghematan melalui struktur kalimat, yang menghindari pemborosan kata. Di antaranya :
o   Pemakaian kata yang sebenarnya tak perlu, di awal kalimat, seperti : adalah dan apa.
o   Pemakaian kata apakah atau apa di dalam kalimat.
o   Pemakaian dari sebagai terjemahan of (inggris), dalam hubungan milik, juga daripada.
o   Pemakaian untuk sebagai terjemahan to (inggris). Namun, dalam kalimat  : “mereka setuju untuk tidak setuju”, kata untuk, demi kejelasan, dipertahankan.
o   Pemakaian adalah, sebagai terjemahan is atau are (Inggris) tak selamanya perlu.
o   Pembubuhan akan, telah, sedang sebagai penunjuk waktu sebenarnya bisa dihapuskan kalau ada keterangan waktu.
o   Pembubuhan bahwa sering bisa ditiadakan. Sebagai ganti bahwa ditaruhkan koma, atau pembuka (:) bilaperlu.
o   Yang sebagai penghubung kata benda dengan sifat, kadang juga bisa ditiadakan dalam konteks kalimat tertentu.
o   Pembentukan kata benda (ke + .... + an atau pe + ..... + an) yang berasal dari kata kerja atau kata sifat, meski tak selamanya, menambah beban kalimat dengan kata yang sebenarnya tak perlu. Misalnya “Ia telah tiga kali melakukan penipuan terhadap saya” (bisa disingkat : “Ia telah tiga kali menipu saya”).
o   Penggunaan dimana, kalau tak hati-hati, juga bisa tak tepat dan boros. Contoh : “Pihak Kejaksaan ... kini menggarap 9 buah perkara korupsi, dimana ke-9 perkara tersebut. sebagian sudah dalam tahap penuntuta, sisanya masih dalam pengusutan.” (“Pihak Kejaksaan Tinggi Sulut di Manado ini menggarap 9 perkara tindak pidana korupsi. Ke-9 perkara tersebut sebagian sudah dalam tahap penuntutan, sisanya masih dalam pengusutan”.
Dalam contoh itu tampak : kata dimana tak menerangkan tempat, melainkan hanya berfungsi sebagai penyambung satu kalimat dengan kalimat lain. Ketika dijadikan dua kalimat, selain bisa menghilangkan dimana, juga menhasilkan kalimat-kalimat pendek.
·         Pengunaan kata Hal ini di awal kalimat, bisa disingkat dengan kata ini di awalnya. Contoh : “Keadaan ekonomi dan moneter kita saat ini masih belum menentu, Hal ini (atau lebih singkat : ini) secara tidaklangsung disebabkan oleh ...”
·         Dalam beberapa kasus kata yang berfungsi menyambung satu kalimat dengan kalimat lain, sesudahnya, juga bisa ditiadakan asal hubungan antara kedua kalimat itu secara implisit cukup jelas (logis) kontinuitasnya. Misalnya : “bukan kebetulan jika gubernur menganggap proyek itu bermanfaat bagi daerahnya. Sebab 5 tahun mendatang, proyek itu bisa menampung 2.500 tenaga kerja setengah terdidik”.
Kausal antara kedua kalimat secara implisit sudah jelas. Meski demikian, untuk kata tapi, walau, atau meski yang menesankan adanya perlawanan tak bisa ditiadakan.
Kejelasan
            Selain beberapa pedoman penghematan dalam menulis, beberapa pedoman dasar kejelasan dalam menulis perlu diperhatikan. Menulis secara jelas membutuhkan dua prasyarat:
o   Si penulis harus memahami betul soal yang mau ditulisnya, bukan pura-pura paham atau belum yakin benar akan pengetahuannya sendiri.
o   Si penulis harus punya kesadaran tentang pembaca.
Memahami betul soal-soal yang mau ditulisnya berarti menguasai sistematika bahan penulisan.
Ruang-waktu deadline membuat kejelasan bahasa jurnalistik meski memperhatikan:
·         Unsur kata
·         Unsur kalimat
Kejelasan unsur kata dilakukan dengan cara:
·         Menerjemahkan kata-kata asing.
·         Menghindari sejauh mungkin akronim.
Akronim memang mempunyai manfaat untuk: menyingkat ucapan dan penulisan dengan cara yang mudah diingat. Akan tetapi, bila kita terlalu sering dan semena-mena membuat akronim akan menyusahkan pembaca. Bahasa jurnalistik menghindari hal itu.
Kejelasan unsur kalimat
Tapi seperti halnya  dalam asas penghematan, asas kejelasaan juga lebih efektif jika dilakukan dalam struktur kalimat.
Hindarkan kalimat-kalimat majemuk yang paling panjang anak kalimatnya, terlebih-lebih lagi, jika kalimat majemuk itu kemudian bercucu kalimat. Setiap kalimat yang teramat panjang melebihi 15 sampai 20 kata, dapat membuat bias pokok-pokok pengertian yang hendak disaampaikan. Apalagi disertakan pula data-data. Kalimat panjang tersebut menjadi kering kerontang, tidak memberi ruang hidup yang bernyawa, bagaikan mayat yang berisi organ-organ mati.
Kata “tidak” berfungsi menegasikan (meng hambarkan, mematahkan) makna yang dikandung oleh kata lain di belakangnya. “tidak bagus” artinya bagusnya entah di mana, mungkin yang ada adalah jelej atau setengah jelek.
Kata “tidak” bisa diganti dengan “bukan” yang fungsinya sama yakni menegasikan. “saya mau naik bukan mobil sedan berwarna merah” (mungkin mau naik sepeda motor atau dokar warna merah”.
Contoh tadi memberi gambaran menggeser-geser kata yang dinegasikan sehingga ketahuanlah pergeseran pesan yang terkandung di dalam kalimmat itu. Jika menulis berita, seorang wartawan perlu juga memikirkan “pergeseran” negasi macam itu, supaya bisa memastikan bahwa pesan yang hendak disampaikan tidak menimbulkan banyak tafsir. Pastikan kata mana yang harus dinegasikan.
Referensi
·         K, Septiawan Santana.Jurnalisme Kontemporer.Jakarta:Yayasan Obor Indonesia.2005
·         Dewabrata, A.M.Kalimat Jurnalistik, Panduan Mencermati Penulisan Berita.Jakarta:kompas.2004

Tidak ada komentar:

Posting Komentar