Secara spesifik, bahasa jurnalistik dapat dibedakan menurut bentuknya,
yaitu bahasa jurnalistik surat kabar, bahasa jurnalistik tabloid, bahasa
jurnalistik majalah, bahasa jurnalistik radio siaran, bahasa jurnalistik
televisi dan bahasa jurnalistik media on line internet. Bahasa jurnalistik
surat kabar, misalnya, kecuali harus tunduk kepada kaidah atau prinsip-prinsip
umum bahasa jurnalistik, juga memiliki ciri-ciri yang sangat khusus atau
spesifik. Hal inilah yang membedakan dirinya dari bahasa jurnalistik media
lainnya.
Dalam buku yang lain Haris Sumadiria mengemukakan terdapat 11 ciri utama
bahasa jurnalsitik yang berlaku untuk semua bentuk media berkala tersebut.
Dalam buku ini (Bahasa Jurnalistik, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis) Haris
menambahkan 6 ciri utama lagi sehingga menjadi semuanya menjadi 17.
1. Sederhana
Sederhana berarti selalu
mengutamakan atau memilih kata atau kalimat yang paling banyak diketahui
maknanya oleh khalayak pembaca yang sangat heterogen, baik dilihat dari tingkat
intelektualitasnya maupun karakteristik demografis dan psikografisnya.
Contohnya klasifikasi sudah ditentukan. Kata “klasifikasi” bisa diganti dengan
kata “pengelompokkan”.
2. Singkat
Singkat berarti langsung
kepada pokok masalah (to the point), tidak bertele-tele, tidak
berputar-putar, tidak memboroskan waktu pembaca yang sangat sederhana.
Contohnya Presiden SBY meresmikan kabinet bersatu jilid dua.
3. Padat
Padat berarti sarat
informasi. Setiap kalimat dan paragraf yang ditulis memuat banyak informasi
penting dan menarik untuk khalayak pembaca. Kalimat yang singkat tidak berarti memuat
banyak informasi. Tetapi kalimat yang padat, kecuali singkat juga mengadung
lebih banyak informasi.
4. Lugas
Luas berarti tegas,
tidak ambigu, sekaligus menghindari eufemisme atau penghalusan kata dan kalimat
yang bisa membingungkan khalayak pembaca sehingga terjadi perbedaan persepsi
dan kesalahan konklusi.
5. Jelas
Jelas berarti mudah
ditangkap maksudnya, tidak baur dan kabur. Sebagai contoh hitam adalah warna
yang jelas, putih adalah warna yang jelas. Ketika kedua warna itu disandingkan,
maka terdapat perbedaan yang tegas mana hitam dan putih. Jelas di sini
mengandung tiga arti: jelas artinya, jelas susunan kata atau kalimatnya, jelas
sasaran atau maksudnya.
6. Jernih
Jernih berarti bening,
tembus pandang, transparan, jujur, tulus, tidak menyembunyikan sesuatu yang
lain yang bersifat negatif seperti prasangka atau fitnah. Kata dan kalimat yang
jernih berarti kata dan kalimat yang tidak memiliki agenda tersembunyi di balik
pemuatan suatu berita atau laporan.
7. Menarik
Artinya mampu
membangkitkan minat dan perhatian khalayak pembaca, memicu selera baca, serta
membuat orang yang sedang tertidur, terjaga seketika. Bahasa jurnalistik
berpijak pada prinsip : menarik, benar, dan baku.
8. Demokratis
Demokratis berarti
bahasa jurnalistik tidak mengenal tingkatan, pangkat, kasta, atau perbedaan
dari pihak yang menyapa dan pihak yang disapa. Bahasa jurnalistik menekankan
aspek fungsional dan komunal , sehingga sama sekali tidak dikenal pendekatan
feodal sebagaimana dijumpai pada masyarakat dalam lingkungan priyayi dan
keraton.
9. Populis
Populis berarti setiap
kata, istilah, atau kalimat apapun yang terdapat dalam karya-karya jurnalistik
harus akrab di telinga, di mata, dan di benak pikiran khalayak pembaca. Bahasa
jurnalistik harus merakyat, artinya diterima dan diakrabi oleh semua lapisan
masyarakat.
10. Logis
Artinya, apa pun yang
terdapat dalam kata, istilah, kalimat, atau paragraf jurnalistik harus dapat
diterima dan tidak bertentangan dengan akal sehat (common sense).
Sebagai contoh, apakah logis kalau dalam berita dikatakan : jumlah korban tewas
dalam musibah longsor dan banjir bandang 225 orang namun sampai berita ini
diturunkan belum juga melapor.jawabannya tentu saja sangat tidak logis, karena
mana mungkin korban yang tewas bisa melapor?.
11. Gramatikal
Berarti setiap kata,
istilah, atau kalimat apapun yang terdapat dalam karya-karya jurnalistik harus
mengikuti kaidah tata bahasa baku. Contoh bahasa jurnalistik nonbaku atau tidak
gramatikal : Ia bilang, presiden menyetujui anggaran pendidikan dinaikkan
menjadi 15 persen dari total APBN dalam tiga tahun kedepan. Contoh bahasa
jurnalistik baku atau gramatikal : Ia mengatakan Presiden menyetujui anggaran
pendidikan menjadi 25 persen dari total APBN dalam lima tahun kedepan.
12. Menghindari kata tutur
Kata tutur adalah kata
yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari secara informal. Contoh:bilang,
dibilangin, bikin, dikasih tahu, kayaknya, mangkanya, sopir, jontor, kelar
semakin.
13. Menghindari kata dan
istilah asing
Berita atau laporan yang
banyak diselipi kata-kata asing, selain tidak informatif dan komunikatif, juga
sangat membingungkan. Menurut teori komunikasi, media massa anonim dan
heterogen, tidak saling mengenal dan benar-benar majemuk.
14. Pilihan kata (diksi)
yang tepat
Bahasa jurnalistik
sangat menekankan efektivitas. Setiap kalimat yang disusun tidak hanya harus
produktif, tetapi juga tidak boleh keluar dari asas efektivitas. Artinya,
setiap kata yang dipilih memang tepat dan akurat, sesuai dengan tujuan pesan
pokok yang ingin disampaikan kepada khalayak.
15. Mengutakan kalimat aktif
Kalimat aktif lebih
mudah dipahami dan lebih disukai oleh khalayak pembaca daripada kalimat pasif.
Kalimat aktif lebih memudahkan pengertian dan memperjelas pemahaman. Sedangkan
kalimat pasif sering menyesatkan pengertian dan mengaburkan pemahaman. Sebagai
contoh presiden mengatakan, bukan dikatakan presiden. Contoh lain pencuri
mengambil perhiasan dari dalam almari pakaian, dan bukan diambilnya perhiasan
itu dari dalam almari pakaian oleh pencuru.
16. Menghindari kata atau
istilah teknis
Karena ditujukan untuk
umum, maka bahasa jurnalistik harus sederhana, mudah dipahami ringan dibaca,
tidak membuat kening berkerut apalagi sampai membuat kepala berdenyut.
Bagaimanapun, kata atau istilah teknis hanya berlaku untuk kelompok atau
komunitas tertentu yang relatif homogen. Realitas yang homogen, menurut
perspektif filsafat bahasa, tidak boleh dibawa ke dalam realitas yang
heterogen. Kecuali tidak efektif, juga mengandung unsur pemerkosaan. Sebagai
contoh, berbagai istilah teknis dalam dunia kedokteran tidak akan bisa dipahami
maksudnya oleh khalayak pembaca apabila dipaksakan untuk dimuat dalam berita,
laporan, atau tulisan pers. Supaya mudah dipahami ganti dengan istilah yang
bisa dipahami masyarakat umum. Kalaupun tak terhindarkan maka harus disertai dengan
penjelasannya dalam tanda kurung.
17. Tunduk kepada kaidah
etika
Salah satu fungsi utama
pers adalah mendidik. Fungsi ini bukan saja harus tercermin pada materi isi
berita, laporan gambar, dan artikel-artikelnya, melainkan juga harus tampak
pada bahasanya. Pada bahasa tersimpul etika. Bahasa tidak saja mencerminkan
pikiran seseorang, tetapi sekaligus juga menunjukkan etika orang itu. Sebagai
pendidik, pers wajib menggunakan serta tunduk kepada kaidah dan etika bahasa
baku. Bahasa pers harus baku, benar, dan baik. Dalam etika berbahasa pers tidak
boleh menuliskan kata-kata yang tidak sopan, vulgar, sumpah serapah, hujatan
yang sangat jauh dari norma sosial budaya agama.
·
Sumadiria, Haris.Bahasa Jurnalistik,
Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis.Bandung:Simbiosa Rekatama Media.2006
Sumadiria, Haris.Jurnalistik Teori & praktik.Bandung:Simbiosa
Rekatama Media.2005
Tidak ada komentar:
Posting Komentar