Jumat, 24 Agustus 2012

Lead dalam Bahasa Jurnalistik

Dalam jurnalistik Indonesia ada beberapa istilah untuk menyebut teras berita (Inggris Lead), yaitu pengantar berita, awal berita, dan intro.
Teras berita adalah bagian yang penting dari sebuah berita, yang ditempatkan pada paragraf pertama di bawah judul berita. Teras berita dapat berupa sebuah kalimat atau beberapa kalimat (dua atau tiga buah kalimat) yang terikat pada sebuah paragraf teras berita ini harus menarik dan ditulis dalam kalimat-kalimat pendek.
Teras berita menggambarkan isi berita pada tubuh berita (detail). Karena itu, sebuah teras berita meskipun ditulis dalam kalimat-kalimat singkat harus memuat unsur-unsur 5W dan 1H.
Ada kecenderungan untuk menonjolkan unsur who dalam teras berita. Lebih-lebih kalau who itu seorang tokoh masyarakat, nasional, internasional, atau juga seorang selebritis terkenal.  Kebanyakan jurnalis mengangap teras berita dengan menonjolkan unsur who pasti penting. Contoh:
Presiden SBY di istana negara kemarin menerima Tim Delapan yang melaporkan hasil akhir kerja mereka.
FUNGSI TERAS BERITA
1.      Atraktif
Artinya teras berita yang kita tulis harus mampu untuk membangkitkan perhatian dan minat khalayak pembaca terhadap topik persoalan atau topik persoalan atau pokok peristiwa yang dilaporkan.
2.      Introduktif
Teras berita yang kita tulis harus dapat mengantarkan pokok persoalan yang dikupas dengan tegas dan jelas sehingga pembaca dapat mengenali dan merumuskan dengan mudah.
3.      Korektif
Kalimat dan paragraf pertama yang kita tulis dalam teras berita, harus dapat membuka jalan bagi kemunculan kalimat dan paragraf kedua dan seterusnya.
4.      Kredibilitas
Kredibilitas maksudnya kredibilitas seorang jurnalis yakni reporter atau wartawan, akan tampak pada teras berita yang ditulisnya.
JENIS-JENIS TERAS BERITA
1.      Who lead (teras berita siapa)
Teras berita siapa dipilih dengan pertimbanganunsur siapa atau pelaku peristiwa memiliki nilai berita (news value) yang lebih besar, kuat, atau lebih tinggi dibandingkan dengan unsur yang lain.
2.      What lead (teras berita apa)
Teori jurnalistik mengingatkan, nilai berita tidak hanya menunjuk pada siapa yang menjadi pelaku peristiwa.
3.      When lead (teras berita kapan)
Cara mengenali when lead adalah dengan menemukan pernyataan tentang waktu pada awal kalimat teras berita seperti pukul (jam-menit-detik), nama hari, pekan, bulan, tahun, windu, dasawarsa, abad.
4.      Where lead (teras berita dimana)
Teori jurnalistik mengingatkan, faktor lokasi atau tempat, sering menjadi penyebab pemicu peristiwa yang sangat mengejutkan.
5.      Why lead (teras berita kenapa)
Teori jurnalistik dikenal salah satu kriteria nilai berita (news value) yang mampu melakukan eksplanasi sekaligus prediksi tentang penyebab sekaligus dampak dari suatu peristiwa yang terjadi di suatu tempat, kota, atau negara.
6.      How lead (teras berita bagaimana)
Teras berita bagaimana, umumnya lebih banyak terjadi pada peristiwa yang bersifat positif. Cara mengenali teras berita how lead dengan menemukan kata untuk atau kata guna pada kalimat pertama teras berita tersebut.
7.      Contrast lead (teras berita kontras)
Teras berita kontras banyak ditemukan pada berbagai peristiwa kriminal dan hukum. Cara untuk mengnalinya dengan memperhatikan isinya, apakah terdapat fakta atau perilaku yang berlawanan dengan seharusnya dilakukan oleh si pelaku peristiwa.
8.      Quotation lead (teras berita kutipan)
Teras berita kutipan harus memenuhi tiga syarat; 1. Perkataan langsung nara sumber yang dikutip dinilai sangat penting 2. Jelas, ringkas, dan tegas 3. Mencerminkan watak pribadi, kebiasaan, atau gaya kepemimpinan nara sumber tersebut.
9.      Question lead (teras berita pertanyaan)
Syarata question lead pertanyaan yang dilontarkan nara sumber dinilai menarik atau penting, ringkas, dan tegas, dan mencerminkan karakter pribadi.
10.  Descriptive lead (teras berita pemaparan)
Sesuai dengan teori jurnalistik, pelukisan suasana dalam suatu peristiwa tertentu secara deskriptif dinilai lebih efektif dibandingkan dengan cara lain.
11.  Narative lead (teras berita bercerita)
Ditulis dengan mengikuti kaidah gaya penulisan cerita pendek. Teras berita jenis ini digolongkan ke dalam jurnalistik sastra.
12.  Exlamation lead (teras berita menjerit)
Teras berita menjerit, umumnya lebih banyak ditemukan pada peristiwa kriminal dan peristiwa bencana seperti gempa bumi, tsunami, longsor, banjir, kecelakaan pesawat, kapal, feri, kereta api, bus.
disarikan dari buku:
Chaer, Abdul.Bahasa Jurnalsitik.Jakarta:Rineka Cipta.2010
 Sumadiria, Haris.Jurnalistik Indonesia,menulis berita dan feature.Bandung:Simbiosa Rekatama Media.2006

Kaidah Bahasa Indonesia (EYD) dalam Bahasa Jurnalistik

A.    Penulisan Huruf Kapital
1.      Jabatan tidak diikuti nama orang
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat. Misalnya, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, Gubernur Jawa Barat, Profesor Jalaludin Rakhmat, Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan Nasional.
Ditegaskan huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, atau nama tempat. Salah satu ciri bahasa jurnalistik adalah demokratis. Contoh :
·         Menurut Bupati, anggaran untuk rehabilitasi gedung sekolah dasar .....
Seharusnya :
·         Menurut bupati, anggaran untuk rehabilitasi gedung sekolah dasar .....

2.      Huruf pertama nama bangsa
ditegaskan huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama bangsa, suku dan bahasa yang dipakai bentuk dasar kata turun. Contoh:
·         50 persen dosen Unoversitas Masa depan (UMD) mengajar di depan kelas dengan dialek ke-Sunda-Sundaan, 20 persen dosen mengajardengan dialek ke-Inggris-Inggrisan, dan 10 persen menggunakan dialek ke-Batak-Batakan.
Seharusnya
·         50 persen dosen Unoversitas Masa depan (UMD) mengajar di depan kelas dengan dialek kesunda-sundaan, 20 persen dosen mengajardengan dialek keinggris-inggrisan, dan 10 persen menggunakan dialek kebatak-batakan.

3.      Nama geografi sebgai nama jenis
Dalam butir 9 ditegaskan, huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri. Misalnya: berlayar ke teluk, mandi di kali, menyebrangi selat, pergi ke arah tenggara. Contoh:
·         Para wisatawan lokal lebih banyak membelanjakan uangnya yntuk membeli oleh-oleh khas tiap daerah seperti kacang Bogor, salak Bali, pisang Ambon, pepaya Bangkok,  nanas Subang, tahu Sumedang, peuyeum bandung, bandeng presto Semarang, dan telur Brebes.
Seharusnya:
·         Para wisatawan lokal lebih banyak membelanjakan uangnya yntuk membeli oleh-oleh khas tiap daerah seperti kacang bogor, salak bali, pisang ambon, pepaya bangkok,  nanas subang, tahu sumedang, peuyeum bandung, bandeng presto semarang, dan telur brebes.
4.      Setiap unsur bentuk ulang sempurna
Dalam butir 11 dinyatakan, huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi. Contoh:
·         Perserikatan Bangsa-bangsa, Yayasan Ilmu-ilmu Sosial dan Kepurbakalaan Sumedang larang, Yayasan Ahli-ahli Bedah Plstik Jawa Barat, Undang-undang Dasar Republik Indonesia, Garis-garis Besar Haluan Negara.
Seharusnya:
·         Perserikatan Bangsa-Bangsa, Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial dan Kepurbakalaan Sumedang larang, Yayasan Ahli-Ahli Bedah Plstik Jawa Barat, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, Garis-Garis Besar Haluan Negara.
5.      Penulisan kata depan dan kata sambung
Dalam butir dinyatakan huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan utnuk yang tidak terletak pada posisi awal. Contoh:
·         Diumumkan tiga cerita pendek bertema pelestarian lingkungan yang paling digemari pembaca yakni Harimau Tua Dan Ayam Centil, Hari-Hari Penentian Dalam Gua Neraka, dan Kado Untuk Setan.
Seharusnya
·         Diumumkan tiga cerita pendek bertema pelestarian lingkungan yang paling digemari pembaca yakni Harimau Tua dan Ayam Centil, Hari-Hari Penentian dalam Gua Neraka, dan Kado untuk Setan.
B.     Penulisan Huruf Miring
1.      Penulisan nama buku
Contohnya: Buku Jurnalistik Indonesia, Majalah Mingguan Berbahasa Sunda Mangle, Surat Kabar Bandung Pos, menurut Dewan Juri Anugerah Kebudayaan Jawa Barat 2006.
2.      Penulisan penegasan kata
Contohnya: Harijanto sebenarnya mencintai boat modeling sejak 1970-an.
3.      Penulisan kata ilmiah
Contohnya: Beragam jenis batu menjadi olahan Irwan, antara lain kucubung ungu (royal-purple amethyst).
C.    Penulisan kata Turunan
1.      Gabungan kata dapat awalan akhiran
Contoh: Bertepuk tangan, garis bawahi, dilipatgandakan, sebar luaskan.
2.      Gabungan kata dalam kombinasi
Contoh: Antarkota, antarsiswa, antiponografi, antikekerasan, anti-Amerika, antikarat, audiovisual, demoralisasi, dwiwarna, dwibahasa.
D.    Penulisan Gabungan Kata
1.      Penulisan gabungan kata istilah khusus
Contoh: alat pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung tangan, ibu-bapak kami, kiri-kanan jalan, suka-duka.
2.      penulisan gabungan kata serangkai
Contoh: acapkali, adakalanya, akhirulkalam, daripada, darmawisata, belasungkawa, dukacita, kacamata, kasatmata, manakala.
E.     Penulisan Partikel
1.      Penulisan partikel pun
Contoh partikel pun yang harus ditulis terpisah : apa pun, kapan pun, di mana pun, rektor pun. Sedangkan contoh partikel pun yang harus ditulis serangkai : adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, meskipun, kalaupun, kendatipun.
2.      Penulisan partikel per
Contoh: partikel per yang harus ditulis terpisah: Para guru bantu di seluruh Indonesia akan menerima gaji per 1 April 2007.
F.     Penulisan Singkatan
1.      Penulisan singkatan umum tiga huruf
Kaidah bahasa jurnalistik dengan tegas melarang pemakaian singkatan umum.
2.      Penulisan singkatan mata uang
Singkatan mata uang, lambang kimia, singkatan satuan ukuran tidak diikuti tanda titik. Contoh: kg, Rp.
G.    penulisan Akronim
1.      Akronim nama diri
Contoh: Universitas Islam Nusantara, ditulis menjadi UNINUS seharusnya Uninus.
2.      Akronim bukan nama diri
Contoh: Pemilu (pemilihan umum), seharusnilang.ya ditulis pemilu, Tilang (bukti pelanggaran) seharusnya ditulis
H.    Penulisan Angka
Penulisan Rp 7.867.456.421.821 modal disetor 11.542.345.115. Dalam kaidah bahasa jurnalistik angka itu harus disederhanakan menjadi Rp 7,86 triliun modal disetor 11,54 miliar.
I.       penulisan Lambang Bilangan
1.      Penulisan lambang bilangan satu-dua kata
Contoh: Dalam tiga pekan terakhir, wali kota sudah tiga kali mengunjungi para korban. Contoh lainnya: pemilihan umum berlangsung sampai 11 jam, atau molor tujuh jam dari yang direncanakan.
2.      penulisan lambang bilangan awal kalimat
Contoh: Sembilan belas tewas dalam musibah kapal feri yang tenggelam di selat Bali, Senin petang kemarin (3/4).
3.      Penulisan lambang bilangan utuh
Contoh: Dari 210 juta penduduk Indonesia, 60 persen atau sekitar 126 juta bermukim di perdesaan.
4.      Penulisan lambang bilangan angka-huruf
Peserta ujian saringan masuk calon pegawai negeri sipil tahun anggaran 2006 di Kabupaten Bandung, jawa Barat, tercatat 15 ribu orang. Namun jumlah itu, hanya 1.658 yang dinyatakan lulus.
Dirangkum dari buku Bahasa Jurnalistik, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalistik; karya Drs. A.S. Haris Sumadiria, M.Si.

Mubazir / Ekonomi / Hemat dalam Bahasa Jurnalistik I

Menurut Goenawan Mohammad, efisien di sini berarti lebih hemat dan lebih jelas. Penghematan itu dilakukan di dua lapisan : (1) unsur kata, dan (2) unsur kalimat.
Penghematan Unsur  Kata
Terdiri atas beberapa kata berikut ini.
1.      Beberapa kata Indonesia sebenarnya bisa dihemat tanpa menorbankan kata bahasa dan jelasnya arti. Misalnya :
Agar supaya              agar, supaya
Akan tetapi                tapi
Sehingga                     hingga
Meskipun                   meski
Walaupun                  walau
Tidak                          tak
2.      Kata daripada atau dari pada juga sering bisa disingkat jadi dari.
3.      Ejaan yang salah kaprah justru bisa diperbaiki dengan menghemat huruf.
Sjah                sah
Khawatir        kuatir
Akhli               ahli
Effektif           efektif
4.      Beberapa kata mempunyai sinonim yang lebih pendek. Misalnya :
Kemudian      lalu
Makin             kian
Terkejut         kaget
Sangat            amat
Demikian        begitu
Sekarang        kini
Catatan : dua kata yang bersamaan arti belum tentu bersamaan efek, sebab bahasa bukan hanya soal perasaan. Dalam soal memilih sinonim yang telah pendek memang perlu ada kelonggaran, dengan mempertimbangkan rasa bahasa.
Penghematan Unsur Kalimat
Pada penghematan kalimat, Goenawan mengilustrasikan penghematan melalui struktur kalimat, yang menghindari pemborosan kata. Di antaranya :
o   Pemakaian kata yang sebenarnya tak perlu, di awal kalimat, seperti : adalah dan apa.
o   Pemakaian kata apakah atau apa di dalam kalimat.
o   Pemakaian dari sebagai terjemahan of (inggris), dalam hubungan milik, juga daripada.
o   Pemakaian untuk sebagai terjemahan to (inggris). Namun, dalam kalimat  : “mereka setuju untuk tidak setuju”, kata untuk, demi kejelasan, dipertahankan.
o   Pemakaian adalah, sebagai terjemahan is atau are (Inggris) tak selamanya perlu.
o   Pembubuhan akan, telah, sedang sebagai penunjuk waktu sebenarnya bisa dihapuskan kalau ada keterangan waktu.
o   Pembubuhan bahwa sering bisa ditiadakan. Sebagai ganti bahwa ditaruhkan koma, atau pembuka (:) bilaperlu.
o   Yang sebagai penghubung kata benda dengan sifat, kadang juga bisa ditiadakan dalam konteks kalimat tertentu.
o   Pembentukan kata benda (ke + .... + an atau pe + ..... + an) yang berasal dari kata kerja atau kata sifat, meski tak selamanya, menambah beban kalimat dengan kata yang sebenarnya tak perlu. Misalnya “Ia telah tiga kali melakukan penipuan terhadap saya” (bisa disingkat : “Ia telah tiga kali menipu saya”).
o   Penggunaan dimana, kalau tak hati-hati, juga bisa tak tepat dan boros. Contoh : “Pihak Kejaksaan ... kini menggarap 9 buah perkara korupsi, dimana ke-9 perkara tersebut. sebagian sudah dalam tahap penuntuta, sisanya masih dalam pengusutan.” (“Pihak Kejaksaan Tinggi Sulut di Manado ini menggarap 9 perkara tindak pidana korupsi. Ke-9 perkara tersebut sebagian sudah dalam tahap penuntutan, sisanya masih dalam pengusutan”.
Dalam contoh itu tampak : kata dimana tak menerangkan tempat, melainkan hanya berfungsi sebagai penyambung satu kalimat dengan kalimat lain. Ketika dijadikan dua kalimat, selain bisa menghilangkan dimana, juga menhasilkan kalimat-kalimat pendek.
·         Pengunaan kata Hal ini di awal kalimat, bisa disingkat dengan kata ini di awalnya. Contoh : “Keadaan ekonomi dan moneter kita saat ini masih belum menentu, Hal ini (atau lebih singkat : ini) secara tidaklangsung disebabkan oleh ...”
·         Dalam beberapa kasus kata yang berfungsi menyambung satu kalimat dengan kalimat lain, sesudahnya, juga bisa ditiadakan asal hubungan antara kedua kalimat itu secara implisit cukup jelas (logis) kontinuitasnya. Misalnya : “bukan kebetulan jika gubernur menganggap proyek itu bermanfaat bagi daerahnya. Sebab 5 tahun mendatang, proyek itu bisa menampung 2.500 tenaga kerja setengah terdidik”.
Kausal antara kedua kalimat secara implisit sudah jelas. Meski demikian, untuk kata tapi, walau, atau meski yang menesankan adanya perlawanan tak bisa ditiadakan.
Kejelasan
            Selain beberapa pedoman penghematan dalam menulis, beberapa pedoman dasar kejelasan dalam menulis perlu diperhatikan. Menulis secara jelas membutuhkan dua prasyarat:
o   Si penulis harus memahami betul soal yang mau ditulisnya, bukan pura-pura paham atau belum yakin benar akan pengetahuannya sendiri.
o   Si penulis harus punya kesadaran tentang pembaca.
Memahami betul soal-soal yang mau ditulisnya berarti menguasai sistematika bahan penulisan.
Ruang-waktu deadline membuat kejelasan bahasa jurnalistik meski memperhatikan:
·         Unsur kata
·         Unsur kalimat
Kejelasan unsur kata dilakukan dengan cara:
·         Menerjemahkan kata-kata asing.
·         Menghindari sejauh mungkin akronim.
Akronim memang mempunyai manfaat untuk: menyingkat ucapan dan penulisan dengan cara yang mudah diingat. Akan tetapi, bila kita terlalu sering dan semena-mena membuat akronim akan menyusahkan pembaca. Bahasa jurnalistik menghindari hal itu.
Kejelasan unsur kalimat
Tapi seperti halnya  dalam asas penghematan, asas kejelasaan juga lebih efektif jika dilakukan dalam struktur kalimat.
Hindarkan kalimat-kalimat majemuk yang paling panjang anak kalimatnya, terlebih-lebih lagi, jika kalimat majemuk itu kemudian bercucu kalimat. Setiap kalimat yang teramat panjang melebihi 15 sampai 20 kata, dapat membuat bias pokok-pokok pengertian yang hendak disaampaikan. Apalagi disertakan pula data-data. Kalimat panjang tersebut menjadi kering kerontang, tidak memberi ruang hidup yang bernyawa, bagaikan mayat yang berisi organ-organ mati.
Kata “tidak” berfungsi menegasikan (meng hambarkan, mematahkan) makna yang dikandung oleh kata lain di belakangnya. “tidak bagus” artinya bagusnya entah di mana, mungkin yang ada adalah jelej atau setengah jelek.
Kata “tidak” bisa diganti dengan “bukan” yang fungsinya sama yakni menegasikan. “saya mau naik bukan mobil sedan berwarna merah” (mungkin mau naik sepeda motor atau dokar warna merah”.
Contoh tadi memberi gambaran menggeser-geser kata yang dinegasikan sehingga ketahuanlah pergeseran pesan yang terkandung di dalam kalimmat itu. Jika menulis berita, seorang wartawan perlu juga memikirkan “pergeseran” negasi macam itu, supaya bisa memastikan bahwa pesan yang hendak disampaikan tidak menimbulkan banyak tafsir. Pastikan kata mana yang harus dinegasikan.
Referensi
·         K, Septiawan Santana.Jurnalisme Kontemporer.Jakarta:Yayasan Obor Indonesia.2005
·         Dewabrata, A.M.Kalimat Jurnalistik, Panduan Mencermati Penulisan Berita.Jakarta:kompas.2004

Pedoman bahasa jurnalistik

1.       Pedoman Pemakaian Bahasa Pers
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 10 November 1978 di Jakarta mengeluarkan 10 pedoman pemakaian bahasa dalam pers.
Berikut kutipan lengkap kesepuluh pedoman pemakaian bahasa dalam pers :
a.       Wartawan hendaknya secara konsekuen melaksanakan pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan.
b.      Wartawan hendaknya membatasi diri dalam singkatan atau akronim. Kalaupun ia harus menulis akronim, maka satu kali ia harus menjelaskan dalam tanda kurung kepanjangan akronim tersebut.
c.       Wartawan hendaknya tidak menghilangkan imbuhan, bentuk awal atau prefiks. Pemenggalan kata awalan me dapat dilakukan dalam kepala berita mengingat keterbatasan ruang. Akan tetapi pemenggalan jangan sampai dipukulratakan sehingga merembet pula ke dalam tubuh berita.
d.      Wartawan hendaknya menulis dengan kalimat-kalimat pendek. Pengutaraan pikirannya harus logis, teratur, lengkap dengan kata pokok, sebutan dan kata tujuan (subjek, predikat, objek).
e.      Wartawan hendaknya menjauhkan diri dari ungkapan klise atau stereotype yang sering dipakai dalam transisi berita seperti kata-kata sementara itu, dapat ditambahkan, perlu diketahui, dalam rangka.
f.        Wartawan hendaknya menghilangkan kata mubazir seperti adalah (kata kerja kopula), telah (penunjuk masa lampau), untuk (sebagai terjemahan to dalam bahasa dalam bahasa inggris), dari (sebagai terjemahan of dalam hubungan milik), bahwa (sebagai kata sambung) dan bentuk jamak yang tidak perlu diulang.
g.       Wartawan hendaknya mendisiplinkan pikirannya supaya jangan campur aduk dalam satu kalimat bentuk pasif (di) dengan bentuk aktif (me).
h.      Wartawan hendaknya menghindari kata-kata asing dan istilah-istilah yang terlalu teknis ilmiah dalam berita.
i.         Wartawan hendaknya sedapat mungkin mentaati kaidah tata bahasa.
j.        Wartawan hendaknya ingat bahasa jurnalistik ialah bahasa yang komunikatif dan spesifik sifatnya.
2.       Pedoman penulisan teras berita
Untuk penulisan teras berita (lead), persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 15 Oktober 1997 di Jakarta memandang perlu membuat pedoman khusus yang mencangkup sepuluh aspek. Kesepuluh aspek itu meliputi pokok terpenting berita, jumlah kata dalam teras berita, syarat teras berita, informasi pelengkapa, mengutamakan unsur apa, siapa untuk narasumber yang menonjol, jarang memakai unsur bilamana, urutan unsur dimulai tempat disusul oleh unsur waktu, unsur bilamana dan unsur mengapa diuraikan dalam badan berita dan dapat dimulai dengan kutipan lengkap pernyataan seseorang (quotation lead).
3.       Pedoman Penulisan Bidang Hukum
Bahasa hukum kerap dianggap rumit, sulit dipahami, dan bahkan tak jelas ujung pangkalnya. Untuk kepentingan itulah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 30 Juli 1977 di Cibulan Bogor, Jawa Barat, menetapkan sepuluh pedoman penulisan bidang hukum. Kesepuluh pedoman ini menguraikan tentang asas praduga tak bersalah (presumtion of innocense), prinsip liputan dari kedua belah pihak secara berimbang (cover both sides) identitas korban perkosaan, anggota keluarga dari pihak tersangka atau terhukum, pola keterangan di luar persidangan, peradilan oleh pers (trial by the press) nada dan gaya tulisan berita hukum, kesempatan seimbang kepada para pihak, pemberitaan pemberitaan perkara secara proporsional dan konsisten, dan pemberian gambaran jelas mengenai duduknya perkara.
4.       Pedoman Penulisn Bidang Agama
PWI di Pabelan, Malang Jawa Timur, 28 Desember 1979, mebuat penulisan bidang agama sebagai bekal para jurnalis anggota ketika meliput masalah dan peristiwa agama di daerah penugasannya masing-masing. Kesepuluh pedoman ini mengatur tentang kewenangan negara dalam agama, hak negara mengatur rakyat, tulisan dan berita harus memiliki nalar khalayak, wartawan harus menjahui berita masalah khilafah dalam agama, wartawan harus menjauhui berita masalah khilafah dalam agama, wartawan harus menjauhi berita yang mempersoalkan pokok-pokok kepercayaan berbagai agama.
5.       Pedoman Penulisan Bidang Koperasi
Koperasi adalah soko guru perekonomian bangsa. Kedudukannya sangat kuat karena tertuang dalam UUD 1945. Siapa yang menentang koperasi, dalam bahsa politik, sama saja artinya dengan menolak UUD 1945. PWI pun tak tinggal diam. Organisasi ini lantas membuat dan menetapakan sepuluh pedoman penulisan bidang koperasi. Pedoman tersebut membicarakan tentang posisi koperasi, koperasi sebagai produk lingkungan, kepercayaan masyarakat terhadap koperasi harus ditumbuhkan, pertisipasi wartawan dalam menciptakan iklim berkoperasi, kriteria kemajuan koperasi, pelayanan kepada anggota koperasi, manfaat bagi koperasi masyarakat dan lingkungan, aspek-aspek kependudukan dan program keluarga bersama, falsafah hidup bangsa dan wartawan harus menyajikan pelaporan mendalam tentang koperasi.

·         Sumadiria, Haris.Bahasa Jurnalistik, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis.Bandung:Simbiosa Rekatama Media.2006

Karakteristik Bahasa Jurnalistik

Secara spesifik, bahasa jurnalistik dapat dibedakan menurut bentuknya, yaitu bahasa jurnalistik surat kabar, bahasa jurnalistik tabloid, bahasa jurnalistik majalah, bahasa jurnalistik radio siaran, bahasa jurnalistik televisi dan bahasa jurnalistik media on line internet. Bahasa jurnalistik surat kabar, misalnya, kecuali harus tunduk kepada kaidah atau prinsip-prinsip umum bahasa jurnalistik, juga memiliki ciri-ciri yang sangat khusus atau spesifik. Hal inilah yang membedakan dirinya dari bahasa jurnalistik media lainnya.
Dalam buku yang lain Haris Sumadiria mengemukakan terdapat 11 ciri utama bahasa jurnalsitik yang berlaku untuk semua bentuk media berkala tersebut. Dalam buku ini (Bahasa Jurnalistik, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis) Haris menambahkan 6 ciri utama lagi sehingga menjadi semuanya menjadi 17.
1.      Sederhana
Sederhana berarti selalu mengutamakan atau memilih kata atau kalimat yang paling banyak diketahui maknanya oleh khalayak pembaca yang sangat heterogen, baik dilihat dari tingkat intelektualitasnya maupun karakteristik demografis dan psikografisnya. Contohnya klasifikasi sudah ditentukan. Kata “klasifikasi” bisa diganti dengan kata “pengelompokkan”.
2.      Singkat
Singkat berarti langsung kepada pokok masalah (to the point), tidak bertele-tele, tidak berputar-putar, tidak memboroskan waktu pembaca yang sangat sederhana. Contohnya Presiden SBY meresmikan kabinet bersatu jilid dua.
3.      Padat
Padat berarti sarat informasi. Setiap kalimat dan paragraf yang ditulis memuat banyak informasi penting dan menarik untuk khalayak pembaca. Kalimat yang singkat tidak berarti memuat banyak informasi. Tetapi kalimat yang padat, kecuali singkat juga mengadung lebih banyak informasi.
4.      Lugas
Luas berarti tegas, tidak ambigu, sekaligus menghindari eufemisme atau penghalusan kata dan kalimat yang bisa membingungkan khalayak pembaca sehingga terjadi perbedaan persepsi dan kesalahan konklusi.
5.      Jelas
Jelas berarti mudah ditangkap maksudnya, tidak baur dan kabur. Sebagai contoh hitam adalah warna yang jelas, putih adalah warna yang jelas. Ketika kedua warna itu disandingkan, maka terdapat perbedaan yang tegas mana hitam dan putih. Jelas di sini mengandung tiga arti: jelas artinya, jelas susunan kata atau kalimatnya, jelas sasaran atau maksudnya.
6.      Jernih
Jernih berarti bening, tembus pandang, transparan, jujur, tulus, tidak menyembunyikan sesuatu yang lain yang bersifat negatif seperti prasangka atau fitnah. Kata dan kalimat yang jernih berarti kata dan kalimat yang tidak memiliki agenda tersembunyi di balik pemuatan suatu berita atau laporan.
7.      Menarik
Artinya mampu membangkitkan minat dan perhatian khalayak pembaca, memicu selera baca, serta membuat orang yang sedang tertidur, terjaga seketika. Bahasa jurnalistik berpijak pada prinsip : menarik, benar, dan baku.
8.      Demokratis
Demokratis berarti bahasa jurnalistik tidak mengenal tingkatan, pangkat, kasta, atau perbedaan dari pihak yang menyapa dan pihak yang disapa. Bahasa jurnalistik menekankan aspek fungsional dan komunal , sehingga sama sekali tidak dikenal pendekatan feodal sebagaimana dijumpai pada masyarakat dalam lingkungan priyayi dan keraton.
9.      Populis
Populis berarti setiap kata, istilah, atau kalimat apapun yang terdapat dalam karya-karya jurnalistik harus akrab di telinga, di mata, dan di benak pikiran khalayak pembaca. Bahasa jurnalistik harus merakyat, artinya diterima dan diakrabi oleh semua lapisan masyarakat.
10.  Logis
Artinya, apa pun yang terdapat dalam kata, istilah, kalimat, atau paragraf jurnalistik harus dapat diterima dan tidak bertentangan dengan akal sehat (common sense). Sebagai contoh, apakah logis kalau dalam berita dikatakan : jumlah korban tewas dalam musibah longsor dan banjir bandang 225 orang namun sampai berita ini diturunkan belum juga melapor.jawabannya tentu saja sangat tidak logis, karena mana mungkin korban yang tewas bisa melapor?.
11.  Gramatikal
Berarti setiap kata, istilah, atau kalimat apapun yang terdapat dalam karya-karya jurnalistik harus mengikuti kaidah tata bahasa baku. Contoh bahasa jurnalistik nonbaku atau tidak gramatikal : Ia bilang, presiden menyetujui anggaran pendidikan dinaikkan menjadi 15 persen dari total APBN dalam tiga tahun kedepan. Contoh bahasa jurnalistik baku atau gramatikal : Ia mengatakan Presiden menyetujui anggaran pendidikan menjadi 25 persen dari total APBN dalam lima tahun kedepan.
12.  Menghindari kata tutur
Kata tutur adalah kata yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari secara informal. Contoh:bilang, dibilangin, bikin, dikasih tahu, kayaknya, mangkanya, sopir, jontor, kelar semakin.
13.  Menghindari kata dan istilah asing
Berita atau laporan yang banyak diselipi kata-kata asing, selain tidak informatif dan komunikatif, juga sangat membingungkan. Menurut teori komunikasi, media massa anonim dan heterogen, tidak saling mengenal dan benar-benar majemuk.
14.  Pilihan kata (diksi) yang tepat
Bahasa jurnalistik sangat menekankan efektivitas. Setiap kalimat yang disusun tidak hanya harus produktif, tetapi juga tidak boleh keluar dari asas efektivitas. Artinya, setiap kata yang dipilih memang tepat dan akurat, sesuai dengan tujuan pesan pokok yang ingin disampaikan kepada khalayak.
15.  Mengutakan kalimat aktif
Kalimat aktif lebih mudah dipahami dan lebih disukai oleh khalayak pembaca daripada kalimat pasif. Kalimat aktif lebih memudahkan pengertian dan memperjelas pemahaman. Sedangkan kalimat pasif sering menyesatkan pengertian dan mengaburkan pemahaman. Sebagai contoh presiden mengatakan, bukan dikatakan presiden. Contoh lain pencuri mengambil perhiasan dari dalam almari pakaian, dan bukan diambilnya perhiasan itu dari dalam almari pakaian oleh pencuru.
16.  Menghindari kata atau istilah teknis
Karena ditujukan untuk umum, maka bahasa jurnalistik harus sederhana, mudah dipahami ringan dibaca, tidak membuat kening berkerut apalagi sampai membuat kepala berdenyut. Bagaimanapun, kata atau istilah teknis hanya berlaku untuk kelompok atau komunitas tertentu yang relatif homogen. Realitas yang homogen, menurut perspektif filsafat bahasa, tidak boleh dibawa ke dalam realitas yang heterogen. Kecuali tidak efektif, juga mengandung unsur pemerkosaan. Sebagai contoh, berbagai istilah teknis dalam dunia kedokteran tidak akan bisa dipahami maksudnya oleh khalayak pembaca apabila dipaksakan untuk dimuat dalam berita, laporan, atau tulisan pers. Supaya mudah dipahami ganti dengan istilah yang bisa dipahami masyarakat umum. Kalaupun tak terhindarkan maka harus disertai dengan penjelasannya dalam tanda kurung.
17.  Tunduk kepada kaidah etika
Salah satu fungsi utama pers adalah mendidik. Fungsi ini bukan saja harus tercermin pada materi isi berita, laporan gambar, dan artikel-artikelnya, melainkan juga harus tampak pada bahasanya. Pada bahasa tersimpul etika. Bahasa tidak saja mencerminkan pikiran seseorang, tetapi sekaligus juga menunjukkan etika orang itu. Sebagai pendidik, pers wajib menggunakan serta tunduk kepada kaidah dan etika bahasa baku. Bahasa pers harus baku, benar, dan baik. Dalam etika berbahasa pers tidak boleh menuliskan kata-kata yang tidak sopan, vulgar, sumpah serapah, hujatan yang sangat jauh dari norma sosial budaya agama.

·         Sumadiria, Haris.Bahasa Jurnalistik, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis.Bandung:Simbiosa Rekatama Media.2006
Sumadiria, Haris.Jurnalistik Teori & praktik.Bandung:Simbiosa Rekatama Media.2005