Jumat, 24 Agustus 2012

Kaidah Bahasa Indonesia (EYD) dalam Bahasa Jurnalistik

A.    Penulisan Huruf Kapital
1.      Jabatan tidak diikuti nama orang
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat. Misalnya, Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, Gubernur Jawa Barat, Profesor Jalaludin Rakhmat, Sekretaris Jenderal Departemen Pendidikan Nasional.
Ditegaskan huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang, atau nama tempat. Salah satu ciri bahasa jurnalistik adalah demokratis. Contoh :
·         Menurut Bupati, anggaran untuk rehabilitasi gedung sekolah dasar .....
Seharusnya :
·         Menurut bupati, anggaran untuk rehabilitasi gedung sekolah dasar .....

2.      Huruf pertama nama bangsa
ditegaskan huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama bangsa, suku dan bahasa yang dipakai bentuk dasar kata turun. Contoh:
·         50 persen dosen Unoversitas Masa depan (UMD) mengajar di depan kelas dengan dialek ke-Sunda-Sundaan, 20 persen dosen mengajardengan dialek ke-Inggris-Inggrisan, dan 10 persen menggunakan dialek ke-Batak-Batakan.
Seharusnya
·         50 persen dosen Unoversitas Masa depan (UMD) mengajar di depan kelas dengan dialek kesunda-sundaan, 20 persen dosen mengajardengan dialek keinggris-inggrisan, dan 10 persen menggunakan dialek kebatak-batakan.

3.      Nama geografi sebgai nama jenis
Dalam butir 9 ditegaskan, huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri. Misalnya: berlayar ke teluk, mandi di kali, menyebrangi selat, pergi ke arah tenggara. Contoh:
·         Para wisatawan lokal lebih banyak membelanjakan uangnya yntuk membeli oleh-oleh khas tiap daerah seperti kacang Bogor, salak Bali, pisang Ambon, pepaya Bangkok,  nanas Subang, tahu Sumedang, peuyeum bandung, bandeng presto Semarang, dan telur Brebes.
Seharusnya:
·         Para wisatawan lokal lebih banyak membelanjakan uangnya yntuk membeli oleh-oleh khas tiap daerah seperti kacang bogor, salak bali, pisang ambon, pepaya bangkok,  nanas subang, tahu sumedang, peuyeum bandung, bandeng presto semarang, dan telur brebes.
4.      Setiap unsur bentuk ulang sempurna
Dalam butir 11 dinyatakan, huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi. Contoh:
·         Perserikatan Bangsa-bangsa, Yayasan Ilmu-ilmu Sosial dan Kepurbakalaan Sumedang larang, Yayasan Ahli-ahli Bedah Plstik Jawa Barat, Undang-undang Dasar Republik Indonesia, Garis-garis Besar Haluan Negara.
Seharusnya:
·         Perserikatan Bangsa-Bangsa, Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial dan Kepurbakalaan Sumedang larang, Yayasan Ahli-Ahli Bedah Plstik Jawa Barat, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, Garis-Garis Besar Haluan Negara.
5.      Penulisan kata depan dan kata sambung
Dalam butir dinyatakan huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, dan utnuk yang tidak terletak pada posisi awal. Contoh:
·         Diumumkan tiga cerita pendek bertema pelestarian lingkungan yang paling digemari pembaca yakni Harimau Tua Dan Ayam Centil, Hari-Hari Penentian Dalam Gua Neraka, dan Kado Untuk Setan.
Seharusnya
·         Diumumkan tiga cerita pendek bertema pelestarian lingkungan yang paling digemari pembaca yakni Harimau Tua dan Ayam Centil, Hari-Hari Penentian dalam Gua Neraka, dan Kado untuk Setan.
B.     Penulisan Huruf Miring
1.      Penulisan nama buku
Contohnya: Buku Jurnalistik Indonesia, Majalah Mingguan Berbahasa Sunda Mangle, Surat Kabar Bandung Pos, menurut Dewan Juri Anugerah Kebudayaan Jawa Barat 2006.
2.      Penulisan penegasan kata
Contohnya: Harijanto sebenarnya mencintai boat modeling sejak 1970-an.
3.      Penulisan kata ilmiah
Contohnya: Beragam jenis batu menjadi olahan Irwan, antara lain kucubung ungu (royal-purple amethyst).
C.    Penulisan kata Turunan
1.      Gabungan kata dapat awalan akhiran
Contoh: Bertepuk tangan, garis bawahi, dilipatgandakan, sebar luaskan.
2.      Gabungan kata dalam kombinasi
Contoh: Antarkota, antarsiswa, antiponografi, antikekerasan, anti-Amerika, antikarat, audiovisual, demoralisasi, dwiwarna, dwibahasa.
D.    Penulisan Gabungan Kata
1.      Penulisan gabungan kata istilah khusus
Contoh: alat pandang-dengar, anak-istri saya, buku sejarah-baru, mesin-hitung tangan, ibu-bapak kami, kiri-kanan jalan, suka-duka.
2.      penulisan gabungan kata serangkai
Contoh: acapkali, adakalanya, akhirulkalam, daripada, darmawisata, belasungkawa, dukacita, kacamata, kasatmata, manakala.
E.     Penulisan Partikel
1.      Penulisan partikel pun
Contoh partikel pun yang harus ditulis terpisah : apa pun, kapan pun, di mana pun, rektor pun. Sedangkan contoh partikel pun yang harus ditulis serangkai : adapun, andaipun, ataupun, bagaimanapun, biarpun, meskipun, kalaupun, kendatipun.
2.      Penulisan partikel per
Contoh: partikel per yang harus ditulis terpisah: Para guru bantu di seluruh Indonesia akan menerima gaji per 1 April 2007.
F.     Penulisan Singkatan
1.      Penulisan singkatan umum tiga huruf
Kaidah bahasa jurnalistik dengan tegas melarang pemakaian singkatan umum.
2.      Penulisan singkatan mata uang
Singkatan mata uang, lambang kimia, singkatan satuan ukuran tidak diikuti tanda titik. Contoh: kg, Rp.
G.    penulisan Akronim
1.      Akronim nama diri
Contoh: Universitas Islam Nusantara, ditulis menjadi UNINUS seharusnya Uninus.
2.      Akronim bukan nama diri
Contoh: Pemilu (pemilihan umum), seharusnilang.ya ditulis pemilu, Tilang (bukti pelanggaran) seharusnya ditulis
H.    Penulisan Angka
Penulisan Rp 7.867.456.421.821 modal disetor 11.542.345.115. Dalam kaidah bahasa jurnalistik angka itu harus disederhanakan menjadi Rp 7,86 triliun modal disetor 11,54 miliar.
I.       penulisan Lambang Bilangan
1.      Penulisan lambang bilangan satu-dua kata
Contoh: Dalam tiga pekan terakhir, wali kota sudah tiga kali mengunjungi para korban. Contoh lainnya: pemilihan umum berlangsung sampai 11 jam, atau molor tujuh jam dari yang direncanakan.
2.      penulisan lambang bilangan awal kalimat
Contoh: Sembilan belas tewas dalam musibah kapal feri yang tenggelam di selat Bali, Senin petang kemarin (3/4).
3.      Penulisan lambang bilangan utuh
Contoh: Dari 210 juta penduduk Indonesia, 60 persen atau sekitar 126 juta bermukim di perdesaan.
4.      Penulisan lambang bilangan angka-huruf
Peserta ujian saringan masuk calon pegawai negeri sipil tahun anggaran 2006 di Kabupaten Bandung, jawa Barat, tercatat 15 ribu orang. Namun jumlah itu, hanya 1.658 yang dinyatakan lulus.
Dirangkum dari buku Bahasa Jurnalistik, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalistik; karya Drs. A.S. Haris Sumadiria, M.Si.

Mubazir / Ekonomi / Hemat dalam Bahasa Jurnalistik I

Menurut Goenawan Mohammad, efisien di sini berarti lebih hemat dan lebih jelas. Penghematan itu dilakukan di dua lapisan : (1) unsur kata, dan (2) unsur kalimat.
Penghematan Unsur  Kata
Terdiri atas beberapa kata berikut ini.
1.      Beberapa kata Indonesia sebenarnya bisa dihemat tanpa menorbankan kata bahasa dan jelasnya arti. Misalnya :
Agar supaya              agar, supaya
Akan tetapi                tapi
Sehingga                     hingga
Meskipun                   meski
Walaupun                  walau
Tidak                          tak
2.      Kata daripada atau dari pada juga sering bisa disingkat jadi dari.
3.      Ejaan yang salah kaprah justru bisa diperbaiki dengan menghemat huruf.
Sjah                sah
Khawatir        kuatir
Akhli               ahli
Effektif           efektif
4.      Beberapa kata mempunyai sinonim yang lebih pendek. Misalnya :
Kemudian      lalu
Makin             kian
Terkejut         kaget
Sangat            amat
Demikian        begitu
Sekarang        kini
Catatan : dua kata yang bersamaan arti belum tentu bersamaan efek, sebab bahasa bukan hanya soal perasaan. Dalam soal memilih sinonim yang telah pendek memang perlu ada kelonggaran, dengan mempertimbangkan rasa bahasa.
Penghematan Unsur Kalimat
Pada penghematan kalimat, Goenawan mengilustrasikan penghematan melalui struktur kalimat, yang menghindari pemborosan kata. Di antaranya :
o   Pemakaian kata yang sebenarnya tak perlu, di awal kalimat, seperti : adalah dan apa.
o   Pemakaian kata apakah atau apa di dalam kalimat.
o   Pemakaian dari sebagai terjemahan of (inggris), dalam hubungan milik, juga daripada.
o   Pemakaian untuk sebagai terjemahan to (inggris). Namun, dalam kalimat  : “mereka setuju untuk tidak setuju”, kata untuk, demi kejelasan, dipertahankan.
o   Pemakaian adalah, sebagai terjemahan is atau are (Inggris) tak selamanya perlu.
o   Pembubuhan akan, telah, sedang sebagai penunjuk waktu sebenarnya bisa dihapuskan kalau ada keterangan waktu.
o   Pembubuhan bahwa sering bisa ditiadakan. Sebagai ganti bahwa ditaruhkan koma, atau pembuka (:) bilaperlu.
o   Yang sebagai penghubung kata benda dengan sifat, kadang juga bisa ditiadakan dalam konteks kalimat tertentu.
o   Pembentukan kata benda (ke + .... + an atau pe + ..... + an) yang berasal dari kata kerja atau kata sifat, meski tak selamanya, menambah beban kalimat dengan kata yang sebenarnya tak perlu. Misalnya “Ia telah tiga kali melakukan penipuan terhadap saya” (bisa disingkat : “Ia telah tiga kali menipu saya”).
o   Penggunaan dimana, kalau tak hati-hati, juga bisa tak tepat dan boros. Contoh : “Pihak Kejaksaan ... kini menggarap 9 buah perkara korupsi, dimana ke-9 perkara tersebut. sebagian sudah dalam tahap penuntuta, sisanya masih dalam pengusutan.” (“Pihak Kejaksaan Tinggi Sulut di Manado ini menggarap 9 perkara tindak pidana korupsi. Ke-9 perkara tersebut sebagian sudah dalam tahap penuntutan, sisanya masih dalam pengusutan”.
Dalam contoh itu tampak : kata dimana tak menerangkan tempat, melainkan hanya berfungsi sebagai penyambung satu kalimat dengan kalimat lain. Ketika dijadikan dua kalimat, selain bisa menghilangkan dimana, juga menhasilkan kalimat-kalimat pendek.
·         Pengunaan kata Hal ini di awal kalimat, bisa disingkat dengan kata ini di awalnya. Contoh : “Keadaan ekonomi dan moneter kita saat ini masih belum menentu, Hal ini (atau lebih singkat : ini) secara tidaklangsung disebabkan oleh ...”
·         Dalam beberapa kasus kata yang berfungsi menyambung satu kalimat dengan kalimat lain, sesudahnya, juga bisa ditiadakan asal hubungan antara kedua kalimat itu secara implisit cukup jelas (logis) kontinuitasnya. Misalnya : “bukan kebetulan jika gubernur menganggap proyek itu bermanfaat bagi daerahnya. Sebab 5 tahun mendatang, proyek itu bisa menampung 2.500 tenaga kerja setengah terdidik”.
Kausal antara kedua kalimat secara implisit sudah jelas. Meski demikian, untuk kata tapi, walau, atau meski yang menesankan adanya perlawanan tak bisa ditiadakan.
Kejelasan
            Selain beberapa pedoman penghematan dalam menulis, beberapa pedoman dasar kejelasan dalam menulis perlu diperhatikan. Menulis secara jelas membutuhkan dua prasyarat:
o   Si penulis harus memahami betul soal yang mau ditulisnya, bukan pura-pura paham atau belum yakin benar akan pengetahuannya sendiri.
o   Si penulis harus punya kesadaran tentang pembaca.
Memahami betul soal-soal yang mau ditulisnya berarti menguasai sistematika bahan penulisan.
Ruang-waktu deadline membuat kejelasan bahasa jurnalistik meski memperhatikan:
·         Unsur kata
·         Unsur kalimat
Kejelasan unsur kata dilakukan dengan cara:
·         Menerjemahkan kata-kata asing.
·         Menghindari sejauh mungkin akronim.
Akronim memang mempunyai manfaat untuk: menyingkat ucapan dan penulisan dengan cara yang mudah diingat. Akan tetapi, bila kita terlalu sering dan semena-mena membuat akronim akan menyusahkan pembaca. Bahasa jurnalistik menghindari hal itu.
Kejelasan unsur kalimat
Tapi seperti halnya  dalam asas penghematan, asas kejelasaan juga lebih efektif jika dilakukan dalam struktur kalimat.
Hindarkan kalimat-kalimat majemuk yang paling panjang anak kalimatnya, terlebih-lebih lagi, jika kalimat majemuk itu kemudian bercucu kalimat. Setiap kalimat yang teramat panjang melebihi 15 sampai 20 kata, dapat membuat bias pokok-pokok pengertian yang hendak disaampaikan. Apalagi disertakan pula data-data. Kalimat panjang tersebut menjadi kering kerontang, tidak memberi ruang hidup yang bernyawa, bagaikan mayat yang berisi organ-organ mati.
Kata “tidak” berfungsi menegasikan (meng hambarkan, mematahkan) makna yang dikandung oleh kata lain di belakangnya. “tidak bagus” artinya bagusnya entah di mana, mungkin yang ada adalah jelej atau setengah jelek.
Kata “tidak” bisa diganti dengan “bukan” yang fungsinya sama yakni menegasikan. “saya mau naik bukan mobil sedan berwarna merah” (mungkin mau naik sepeda motor atau dokar warna merah”.
Contoh tadi memberi gambaran menggeser-geser kata yang dinegasikan sehingga ketahuanlah pergeseran pesan yang terkandung di dalam kalimmat itu. Jika menulis berita, seorang wartawan perlu juga memikirkan “pergeseran” negasi macam itu, supaya bisa memastikan bahwa pesan yang hendak disampaikan tidak menimbulkan banyak tafsir. Pastikan kata mana yang harus dinegasikan.
Referensi
·         K, Septiawan Santana.Jurnalisme Kontemporer.Jakarta:Yayasan Obor Indonesia.2005
·         Dewabrata, A.M.Kalimat Jurnalistik, Panduan Mencermati Penulisan Berita.Jakarta:kompas.2004

Pedoman bahasa jurnalistik

1.       Pedoman Pemakaian Bahasa Pers
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 10 November 1978 di Jakarta mengeluarkan 10 pedoman pemakaian bahasa dalam pers.
Berikut kutipan lengkap kesepuluh pedoman pemakaian bahasa dalam pers :
a.       Wartawan hendaknya secara konsekuen melaksanakan pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan.
b.      Wartawan hendaknya membatasi diri dalam singkatan atau akronim. Kalaupun ia harus menulis akronim, maka satu kali ia harus menjelaskan dalam tanda kurung kepanjangan akronim tersebut.
c.       Wartawan hendaknya tidak menghilangkan imbuhan, bentuk awal atau prefiks. Pemenggalan kata awalan me dapat dilakukan dalam kepala berita mengingat keterbatasan ruang. Akan tetapi pemenggalan jangan sampai dipukulratakan sehingga merembet pula ke dalam tubuh berita.
d.      Wartawan hendaknya menulis dengan kalimat-kalimat pendek. Pengutaraan pikirannya harus logis, teratur, lengkap dengan kata pokok, sebutan dan kata tujuan (subjek, predikat, objek).
e.      Wartawan hendaknya menjauhkan diri dari ungkapan klise atau stereotype yang sering dipakai dalam transisi berita seperti kata-kata sementara itu, dapat ditambahkan, perlu diketahui, dalam rangka.
f.        Wartawan hendaknya menghilangkan kata mubazir seperti adalah (kata kerja kopula), telah (penunjuk masa lampau), untuk (sebagai terjemahan to dalam bahasa dalam bahasa inggris), dari (sebagai terjemahan of dalam hubungan milik), bahwa (sebagai kata sambung) dan bentuk jamak yang tidak perlu diulang.
g.       Wartawan hendaknya mendisiplinkan pikirannya supaya jangan campur aduk dalam satu kalimat bentuk pasif (di) dengan bentuk aktif (me).
h.      Wartawan hendaknya menghindari kata-kata asing dan istilah-istilah yang terlalu teknis ilmiah dalam berita.
i.         Wartawan hendaknya sedapat mungkin mentaati kaidah tata bahasa.
j.        Wartawan hendaknya ingat bahasa jurnalistik ialah bahasa yang komunikatif dan spesifik sifatnya.
2.       Pedoman penulisan teras berita
Untuk penulisan teras berita (lead), persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 15 Oktober 1997 di Jakarta memandang perlu membuat pedoman khusus yang mencangkup sepuluh aspek. Kesepuluh aspek itu meliputi pokok terpenting berita, jumlah kata dalam teras berita, syarat teras berita, informasi pelengkapa, mengutamakan unsur apa, siapa untuk narasumber yang menonjol, jarang memakai unsur bilamana, urutan unsur dimulai tempat disusul oleh unsur waktu, unsur bilamana dan unsur mengapa diuraikan dalam badan berita dan dapat dimulai dengan kutipan lengkap pernyataan seseorang (quotation lead).
3.       Pedoman Penulisan Bidang Hukum
Bahasa hukum kerap dianggap rumit, sulit dipahami, dan bahkan tak jelas ujung pangkalnya. Untuk kepentingan itulah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada 30 Juli 1977 di Cibulan Bogor, Jawa Barat, menetapkan sepuluh pedoman penulisan bidang hukum. Kesepuluh pedoman ini menguraikan tentang asas praduga tak bersalah (presumtion of innocense), prinsip liputan dari kedua belah pihak secara berimbang (cover both sides) identitas korban perkosaan, anggota keluarga dari pihak tersangka atau terhukum, pola keterangan di luar persidangan, peradilan oleh pers (trial by the press) nada dan gaya tulisan berita hukum, kesempatan seimbang kepada para pihak, pemberitaan pemberitaan perkara secara proporsional dan konsisten, dan pemberian gambaran jelas mengenai duduknya perkara.
4.       Pedoman Penulisn Bidang Agama
PWI di Pabelan, Malang Jawa Timur, 28 Desember 1979, mebuat penulisan bidang agama sebagai bekal para jurnalis anggota ketika meliput masalah dan peristiwa agama di daerah penugasannya masing-masing. Kesepuluh pedoman ini mengatur tentang kewenangan negara dalam agama, hak negara mengatur rakyat, tulisan dan berita harus memiliki nalar khalayak, wartawan harus menjahui berita masalah khilafah dalam agama, wartawan harus menjauhui berita masalah khilafah dalam agama, wartawan harus menjauhi berita yang mempersoalkan pokok-pokok kepercayaan berbagai agama.
5.       Pedoman Penulisan Bidang Koperasi
Koperasi adalah soko guru perekonomian bangsa. Kedudukannya sangat kuat karena tertuang dalam UUD 1945. Siapa yang menentang koperasi, dalam bahsa politik, sama saja artinya dengan menolak UUD 1945. PWI pun tak tinggal diam. Organisasi ini lantas membuat dan menetapakan sepuluh pedoman penulisan bidang koperasi. Pedoman tersebut membicarakan tentang posisi koperasi, koperasi sebagai produk lingkungan, kepercayaan masyarakat terhadap koperasi harus ditumbuhkan, pertisipasi wartawan dalam menciptakan iklim berkoperasi, kriteria kemajuan koperasi, pelayanan kepada anggota koperasi, manfaat bagi koperasi masyarakat dan lingkungan, aspek-aspek kependudukan dan program keluarga bersama, falsafah hidup bangsa dan wartawan harus menyajikan pelaporan mendalam tentang koperasi.

·         Sumadiria, Haris.Bahasa Jurnalistik, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis.Bandung:Simbiosa Rekatama Media.2006

Karakteristik Bahasa Jurnalistik

Secara spesifik, bahasa jurnalistik dapat dibedakan menurut bentuknya, yaitu bahasa jurnalistik surat kabar, bahasa jurnalistik tabloid, bahasa jurnalistik majalah, bahasa jurnalistik radio siaran, bahasa jurnalistik televisi dan bahasa jurnalistik media on line internet. Bahasa jurnalistik surat kabar, misalnya, kecuali harus tunduk kepada kaidah atau prinsip-prinsip umum bahasa jurnalistik, juga memiliki ciri-ciri yang sangat khusus atau spesifik. Hal inilah yang membedakan dirinya dari bahasa jurnalistik media lainnya.
Dalam buku yang lain Haris Sumadiria mengemukakan terdapat 11 ciri utama bahasa jurnalsitik yang berlaku untuk semua bentuk media berkala tersebut. Dalam buku ini (Bahasa Jurnalistik, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis) Haris menambahkan 6 ciri utama lagi sehingga menjadi semuanya menjadi 17.
1.      Sederhana
Sederhana berarti selalu mengutamakan atau memilih kata atau kalimat yang paling banyak diketahui maknanya oleh khalayak pembaca yang sangat heterogen, baik dilihat dari tingkat intelektualitasnya maupun karakteristik demografis dan psikografisnya. Contohnya klasifikasi sudah ditentukan. Kata “klasifikasi” bisa diganti dengan kata “pengelompokkan”.
2.      Singkat
Singkat berarti langsung kepada pokok masalah (to the point), tidak bertele-tele, tidak berputar-putar, tidak memboroskan waktu pembaca yang sangat sederhana. Contohnya Presiden SBY meresmikan kabinet bersatu jilid dua.
3.      Padat
Padat berarti sarat informasi. Setiap kalimat dan paragraf yang ditulis memuat banyak informasi penting dan menarik untuk khalayak pembaca. Kalimat yang singkat tidak berarti memuat banyak informasi. Tetapi kalimat yang padat, kecuali singkat juga mengadung lebih banyak informasi.
4.      Lugas
Luas berarti tegas, tidak ambigu, sekaligus menghindari eufemisme atau penghalusan kata dan kalimat yang bisa membingungkan khalayak pembaca sehingga terjadi perbedaan persepsi dan kesalahan konklusi.
5.      Jelas
Jelas berarti mudah ditangkap maksudnya, tidak baur dan kabur. Sebagai contoh hitam adalah warna yang jelas, putih adalah warna yang jelas. Ketika kedua warna itu disandingkan, maka terdapat perbedaan yang tegas mana hitam dan putih. Jelas di sini mengandung tiga arti: jelas artinya, jelas susunan kata atau kalimatnya, jelas sasaran atau maksudnya.
6.      Jernih
Jernih berarti bening, tembus pandang, transparan, jujur, tulus, tidak menyembunyikan sesuatu yang lain yang bersifat negatif seperti prasangka atau fitnah. Kata dan kalimat yang jernih berarti kata dan kalimat yang tidak memiliki agenda tersembunyi di balik pemuatan suatu berita atau laporan.
7.      Menarik
Artinya mampu membangkitkan minat dan perhatian khalayak pembaca, memicu selera baca, serta membuat orang yang sedang tertidur, terjaga seketika. Bahasa jurnalistik berpijak pada prinsip : menarik, benar, dan baku.
8.      Demokratis
Demokratis berarti bahasa jurnalistik tidak mengenal tingkatan, pangkat, kasta, atau perbedaan dari pihak yang menyapa dan pihak yang disapa. Bahasa jurnalistik menekankan aspek fungsional dan komunal , sehingga sama sekali tidak dikenal pendekatan feodal sebagaimana dijumpai pada masyarakat dalam lingkungan priyayi dan keraton.
9.      Populis
Populis berarti setiap kata, istilah, atau kalimat apapun yang terdapat dalam karya-karya jurnalistik harus akrab di telinga, di mata, dan di benak pikiran khalayak pembaca. Bahasa jurnalistik harus merakyat, artinya diterima dan diakrabi oleh semua lapisan masyarakat.
10.  Logis
Artinya, apa pun yang terdapat dalam kata, istilah, kalimat, atau paragraf jurnalistik harus dapat diterima dan tidak bertentangan dengan akal sehat (common sense). Sebagai contoh, apakah logis kalau dalam berita dikatakan : jumlah korban tewas dalam musibah longsor dan banjir bandang 225 orang namun sampai berita ini diturunkan belum juga melapor.jawabannya tentu saja sangat tidak logis, karena mana mungkin korban yang tewas bisa melapor?.
11.  Gramatikal
Berarti setiap kata, istilah, atau kalimat apapun yang terdapat dalam karya-karya jurnalistik harus mengikuti kaidah tata bahasa baku. Contoh bahasa jurnalistik nonbaku atau tidak gramatikal : Ia bilang, presiden menyetujui anggaran pendidikan dinaikkan menjadi 15 persen dari total APBN dalam tiga tahun kedepan. Contoh bahasa jurnalistik baku atau gramatikal : Ia mengatakan Presiden menyetujui anggaran pendidikan menjadi 25 persen dari total APBN dalam lima tahun kedepan.
12.  Menghindari kata tutur
Kata tutur adalah kata yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari secara informal. Contoh:bilang, dibilangin, bikin, dikasih tahu, kayaknya, mangkanya, sopir, jontor, kelar semakin.
13.  Menghindari kata dan istilah asing
Berita atau laporan yang banyak diselipi kata-kata asing, selain tidak informatif dan komunikatif, juga sangat membingungkan. Menurut teori komunikasi, media massa anonim dan heterogen, tidak saling mengenal dan benar-benar majemuk.
14.  Pilihan kata (diksi) yang tepat
Bahasa jurnalistik sangat menekankan efektivitas. Setiap kalimat yang disusun tidak hanya harus produktif, tetapi juga tidak boleh keluar dari asas efektivitas. Artinya, setiap kata yang dipilih memang tepat dan akurat, sesuai dengan tujuan pesan pokok yang ingin disampaikan kepada khalayak.
15.  Mengutakan kalimat aktif
Kalimat aktif lebih mudah dipahami dan lebih disukai oleh khalayak pembaca daripada kalimat pasif. Kalimat aktif lebih memudahkan pengertian dan memperjelas pemahaman. Sedangkan kalimat pasif sering menyesatkan pengertian dan mengaburkan pemahaman. Sebagai contoh presiden mengatakan, bukan dikatakan presiden. Contoh lain pencuri mengambil perhiasan dari dalam almari pakaian, dan bukan diambilnya perhiasan itu dari dalam almari pakaian oleh pencuru.
16.  Menghindari kata atau istilah teknis
Karena ditujukan untuk umum, maka bahasa jurnalistik harus sederhana, mudah dipahami ringan dibaca, tidak membuat kening berkerut apalagi sampai membuat kepala berdenyut. Bagaimanapun, kata atau istilah teknis hanya berlaku untuk kelompok atau komunitas tertentu yang relatif homogen. Realitas yang homogen, menurut perspektif filsafat bahasa, tidak boleh dibawa ke dalam realitas yang heterogen. Kecuali tidak efektif, juga mengandung unsur pemerkosaan. Sebagai contoh, berbagai istilah teknis dalam dunia kedokteran tidak akan bisa dipahami maksudnya oleh khalayak pembaca apabila dipaksakan untuk dimuat dalam berita, laporan, atau tulisan pers. Supaya mudah dipahami ganti dengan istilah yang bisa dipahami masyarakat umum. Kalaupun tak terhindarkan maka harus disertai dengan penjelasannya dalam tanda kurung.
17.  Tunduk kepada kaidah etika
Salah satu fungsi utama pers adalah mendidik. Fungsi ini bukan saja harus tercermin pada materi isi berita, laporan gambar, dan artikel-artikelnya, melainkan juga harus tampak pada bahasanya. Pada bahasa tersimpul etika. Bahasa tidak saja mencerminkan pikiran seseorang, tetapi sekaligus juga menunjukkan etika orang itu. Sebagai pendidik, pers wajib menggunakan serta tunduk kepada kaidah dan etika bahasa baku. Bahasa pers harus baku, benar, dan baik. Dalam etika berbahasa pers tidak boleh menuliskan kata-kata yang tidak sopan, vulgar, sumpah serapah, hujatan yang sangat jauh dari norma sosial budaya agama.

·         Sumadiria, Haris.Bahasa Jurnalistik, Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis.Bandung:Simbiosa Rekatama Media.2006
Sumadiria, Haris.Jurnalistik Teori & praktik.Bandung:Simbiosa Rekatama Media.2005

Sejarah, Definisi, Fungsi dan Kendala dalam Bahasa Jurnalistik

Sejarah lahirnya jurnalistik bermula pada masa Kekaisaran Romawi Kuno ketika Julius Caesar (100-44 SM) berkuasa. Dia memerintahkan agar hasil sidang dan kegiatan para anggota senat setiap hari diumumkan pada papan pengumuman yang disebut “Acta Diurna” dari kata “Acta Diurna” inilah secara harfiah kata jurnalistik berasal yakni kata “diurnal” dalam bahasa Latin berarti harian atau setiap hari. Sejak saat itu dikenal para diurnarii yang bekerja membuat catatan-catatan hasil rapat dari papan Acta Diurna itu setiap hari untuk para tuan tanah dan para hartawan. Jadi di masa Romawi Kuno pada sejarah lahirnya jurnalistik merupakan kegiatan menyiarkan berita yang bersifat informatif semata-mata.
Kegiatan penyebaran informasi melalui tulis menulis semakin meluas pada masa peradaban mesir, ketika masyarakatnya menemukan teknik pembuatan kertas dari serat tumbuhan yang bernama phapyrus. Setelah itu penyebaran informasi tertulis maju sangat pesat sejak mesin cetak ditemukan oleh Gutterberg.
Jurnalistik berasal dari kata journ, dalam bahasa Perancis journ berarti catatan harian atau laporan harian. Secara sederhana jurnalistik diartikan sebagai kegiatan yang berhubungan dengan pencatatan atau pelaporan setiap hari. Dalam kamus, jurnalistik diartikan sebagai kegiatan untuk menyiapkan, mengedit, dan menulis untuk surat kabar, majalah atau berkala lainya. Dalam leksikon Komunikasi dirumuskan, jurnalistik adalah pekerjaan yang mengumpulkan, menulis, menyunting dan menyebarkan berita dan karangan untuk surat kabar, majalah dan media massa lainnya seperti radio dan televisi.
Rosihan Anwar, wartawan senior terkemuka menyatakan bahwa bahasa yang digunakan oleh wartawan dinamakan bahasa pers atau bahasa jurnalistik. Bahasa pers ialah salah satu ragam bahasa yang memiliki sifat-sifat khas yaitu : singkat, padat, sederhana, lancar, jelas lugas dan menarik. Bahasa jurnalistik harus didasarkan pada bahasa baku. Dia tidak dapat menganggap sepi kaidah-kaidah tata bahasa. Dia juga harus memperhatikan ejaan yang benar. Dalam kosa kata,  bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan dalam masyarakat (Anwar,1991:1).
Pesan jurnalistik mesti bersifat umum dan sejenak. Berita disampaikan dengan bahasa lancar, jelas, lugas, sederhana, padat, singkat dan menarik. Namun tetap dengan mensyaratkan bahasa baku, kaidah bahasa, ejaan benar dan kosa kata dinamis.
Yang namanya berita itu, dengan demikian bersifat stabil dan bisa diperkirakan. Umum dan sejenak artinya pesan dapat dibaca setiap orang dan langsung dipahami. Sifat stable dan predictable terkait dengan standarisasi pesan. Tiap bahasa punya ciri yang dikenali masyarakat, acuan simboliknya diketahui. Tiapa media memiliki pedoman untuk menyampaikan pemberitaan.
Fungsi bahasa menurut Mahmudah dan Ramlan (2007:2-3) adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat Indonesia. Bahasa juga menunjukkan perbedaan antara satu penutur dengan penutur lainnya, tetapi masing-masing tetap mengikat kelompok penuturnya dalam satu kesatuan sehingga mampu menyesuaikan dengan adat istiadat dan kebiasaan masayarakat. Selain itu fungsi bahasa juga melambangkan pikiran atatu gagasan tertentu, dan juga melambangkan perasaan, kemauan bahkan dapat melambangkan tingkah laku seseorang.
Goys keraf (2001:3-8) menyatakan ada empat fungsi bahasa yaitu :
1.      Alat untuk menyatakan ekspreri diri
Bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita.
2.      Alat komunikasi
Bahasa merupakan saluran perumusan maksud yang melahirkan perasaan dan memungkinkan adanya kerja sama individu.
3.      Alat mengadakan integrasi dan adaptasi sosial
Bahasa merupakan salah satu unsur kebudayaan yang memungkinkan manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman tersebut, serta belajar berkenalan dengan orang lain.
4.      Alat mengadakan kontrol sosial
Bahasa merupakan alat yang dipergunakan dalam usaha mempengaruhi tingkah laku dan tindak tanduk orang lain. Bahasa juga mempunyai relasi dengan proses-proses sosialisasi suatu masyarakat.
Ada beberapa kendala yang menghalangi terciptanya pengunaan bahasa jurnalistik yang baik dalam karya jurnalistik. Ada desakan-desakan hati, tekanan-tekanan atau kekcewaan-kekecewaan yang membuat bahasa jurnalistik menjadi bahasa surat kabar.
Inilah lima kendala utama yang harus diwaspadai oleh setiap wartawan : 1 Menulis di bawah tekanan waktu, 2. Kemasabodohan dan kecerobohan, 3. Tidak mau mengikuti petunjuk, 4. Ikut-ikutan, 5. Merusak arti.
1.      Menulis di bawah tekanan waktu
Kecepatan salah satu keharusan dalam menulis berita. Baik kecepatan itu dalam hal cara menyampaikan informasi, maupun kecepatan dalam arti penulisannya karena dikejar waktu oleh tenggat (deadline) yang harus dipatuhi. Penulis berita yang dikejar tenggat nyaris tidak punya waktu untuk memoles tulisannya, untuk memperindah tulisannya dengan pilihan kata-kata yang tepat, untuk memangkas kalimat-kalimat yang tidak perlu agar membuat tulisan buruk menjadi baik atau membuat tulisan baik menjadi sempurna. Sifat penanganan berita yang tergesa-gesa itu sedikit banyak menjadi kendala untuk tercapainya kualitas penulisan berita yang baik.
2.      Kemasabodohan dan kecerobohan
Kemalasan yang dimaksud di sini adalah kemalasan berpikir, kemalasan mencari kata-kata atau istilah-istilah yang tepat. Orang cenderung mengikuti apa yang sudah dilakukan orang, tidak mau menciptakan sendiri. Dengan adanya kemalasan ini timbul sikap masa bodoh, “ah nanti kan dibetulkan oleh redaktur”. Dari sikap masabodoh yang diakibatkan oleh sikap tidak bertanggung jawab timbul kecerobohan. Wartawan ceroboh menggunakan istilah-istilah yang sudah klise, tidak ada penyegaran dalam menggunakan diksi, dan redaktur juga demikian. Akibatnya ada surat kabar lokal yang menuliskan judul  seperti ini : Bordir Tasik Terkenal, Tapi tak Punya Khas” Redaktur yang membuat judul ini, yang mungkin hanya mengangkatnya dari dalam berita yang ditulis wartawannya sudah dihinggapi sikap malas tadi. Maksud judul itu barangkali : “Bordir Tasik Terkenal, Tapi tak Punya Ciri Khas”.
3.      Malas mengikuti petunjuk
Petunjuk dalam menggunakan bahasa tertulis adalah tata bahasa, kamus dan pedoman ejaan yang disempurnakan (EYD). Petunjuk bahasa untuk jurnalistik bisa ditambah lagi, yaitu “Sepuluh Pedoman Pemakaian Bahasa dalam Pers”.
4.      Ikut-ikutan
Tokoh terkenal biasanya menjadi acuan khalayak, dan tidak mustahil ditiru orang banyak. Ini bukan saja terjadi dalam perilaku, dalam cara berpakaian, tetapi juga dalam berbahasa. Dulu, pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, banyak para petinggi negara mengucapkan akhiran kata kan menjadi ken karena bung karno berbuat demikian. Misalnya kata akan menjadi aken, kata “memberikan” menjadi “memberiken” Presiden Soeharto yang semasa pemerintahan Soekarno masih menjadi perwira tinggi, bahkan sampai ia menjadi Presiden pun masih belum dapat meninggalkan kebiasaan mengucapkan ken itu.
5.      Merusak arti
Sekali lagi, pilihan kata merupakan hal yang penting dalam menulis, terutama dalam menulis berita untuk surat kabar. Harus tepat dalam memilih kata untuk kalimat yang dibuat. Misalnya “memukul” lain daripada “meninju”. Memukul bisa dengan telapak tangan atau dengan alat pemukul, tetapi meninju hanya dengan tinju, dengan kepalan tangan anda.

Daftar pustaka
·         Kusumaningrat, Hikmat.Jurnalistik Teori & Praktik.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.2005
·         Sumadiria, As Haris.Bahasa Jurnalistik,Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis.Bandung: Simbiosa Rekatama Media.2006
·         K, Septiawan Santana.Jurnalisme Kontemporer.Jakarta:Yayasan Obor Indonesia.2005
·         Suhaimi dan Rulli Nasrullah.Bahasa Jurnalistik.Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta.2009

Minggu, 24 Juni 2012

Kampung Batik Palbatu


Salah satu rumah yang dihias motif batik di Kampung Batik Palbatu

Kampung Batik Palbatu, nama yang kini melekat pada jalan Palbatu, Kelurahan Menteng Dalam, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Konsep menjadikan palbatu sebagai kampung batik terinspirasi dari kampung batik Laweyan di Solo. “Awal konsep Kampung Batik Palbatu mau seperti kampung batik yang berada di daerah Jawa atau Solo” ungkap Harry salah satu pengagas Kampung Batik Palbatu.
Penggagas ide ini terdiri dari lima orang Ismoyo W Bimo, Harry Domino, Iwan Darmawan, Safri dan Agus. “Awal yang mempunyai ide Mas Bimo dan Mas Iwan. Lalumereka mengajak saya, Mas Safri dan Mas Agus untuk ikut gabung mensukseskan konsep Kampung Batik Palbatu” Jelas Harry.
Penggagas ide ini bertujuan melestarikan budaya batik yang sempat diklaim oleh Malaysia. Selain itu memperkenalkan batik pada masyarakat khususnya warga Jakarta bagaimana proses membatik. “Tujuan utamanya melestarikan batik dan memperkenalkan batik pada masyarakat” Ujar Harry kepada penulis. Membatik tidak hanya sekedar mencanting saja di kaos atau baju tetapi bisa dengan membatik tas, sendal, sepeda, motor, dinding rumah dan lain-lain. “Langkah awal kami membatik jalan dengan diecat bermotif batik, selanjutnya dinding rumah warga, ada juga warga dengan inisiatif sendiri membatik pot bunga” TambahHarry.
Harry dan Kawan-Kawanya membangun konsep Kampung Batik Palbatu bermodalkan secara swadaya. Dari warga untuk warga, cat-cat bekas dikumpulkan untuk mengecat dinding rumah warga. “Satu rumah kita cat, kemudian warga lain juga meminta untuk dicat rumahnya” kata Harry. Saat ini kurang lebih 15 Rt yang sudah dicat bermotif batik. Hal ini akan terus bertambah jika warga mengizinkan rumahnya dicat.
Dari konsep ini selain bisa melesterikan budaya batik. Perekonomian warga Palbatu juga ikut terangkat, sebab kini banyak warga  membuka kios batik di Pelataran rumahnya. Sehingga dengan begitu usaha batik akan berkembang. “Selain bisa melestarikan batik, hal ini membantu perekonimian dibidang batik, dari pembuat batik dan warga yang menjualnya” tutur Harry. Saat ini sanggar batik yang dimilki Palbatu baru dua yakni sanggar batik cantingku dan sanggar batik setapak. Hal ini akan bertamabah jika warga sudah terbuka akan melestarika batik.
Konsep ini digagas pada Mei tahun lalu. Untuk memeriahkan acara ini keempat penggagas mengadakan Jakarta Batik Carnival pada 21-22 Mei 2011. Setelah berhasil pada acara pertama, untuk kali keduanya pada sabtu dan minggu 5-6 Mei 2012 diadakan kembali Jakarta Batik Carnival. Dengan menyuguhkan fesyen show batik, kuliner tradisional, bazar berbagai macam bahan motif batik.
Acara ini mendapat apresiasi dari Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk kali kedua. Pertama ditahun 2011 dengan kategori ‘Pengecatan jalan terpanjang dengan motif batik (minimal 100 meter)’. Kedua di tahun ini Palbatu memiliki jumlah rumah warga yang paling banyak dicat dengan motif batik total sekitar 100 rumah.
Terget yang akan dicapai selanjutnya memperluas Kampung Batik Palbatu ini. Yang awalnya baru satu Rw dicat bermotif batik akan mengecat seluruh kawasan Palbatu ini. “Saat ini memang baru Rw empat yang dijadikan Kampung Batik Palbatu, namun Kampung Batik Palbatu bukan milik Rw empat tetapi miliki semua.” Tegasnya diakhir-akhir wawancara.